kumpulan biografi kisah para mualaf masuk islam

kumpulan biografi kisah para mualaf masuk islam

“Dibandingkan Kristen, Islam Lebih Memberdayakan Kaum Perempuan”
Monday, 04/04/2011 09:34 WIB | email | print

Setelah masuk Islam, Laura Rodriguez–seorang perempuan Spanyol–memilih aktif dalam berbagai kegiatan advokasi bagi komunitas Muslim Spanyol. Sekarang ia menjadi ketua Union of Muslim Women’s Rights Organization, yang bergerak dalam pembelaan hak-hak perempuan Muslim, terutama kaum imigran.

Mengapa ia tertarik untuk aktif dalam organisasi yang membela hak kaum perempuan, terutama para muslimah? Karena soal hak-hak perempuan inilah yang mendorong Laura untuk memeluk agama Islam.

Ia lahir dari keluarga Katolik dan mendapat pendidikan dari sekolah Katolik. Menurut Laura, agama Katolik yang dulu dianutnya, sangat membatasi hak-hak perempuan.

“Dalam ajaran Islam, kaum perempuan diberi banyak hak dibandingkan dalam ajaran Katolik. Agama Kristen membatasi hak-hak kaum perempuan, sedangkan agama Islam memberdayakan kaum perempuan,” kata Laura pada surat kabar Turki, Hurriyet.

“Islam memberikan saya hak-hak sebagai perempuan, yang tidak diberikan dalam agama Katolik, seperti kebebasan sebagai individu, hak mendapat pendidikan, perlindungan hukum, hak dalam pekerjaan …”

“Dalam agama Katolik, perempuan tidak boleh berkomunikasi langsung dengan Tuhannya. Misi perempuan dalam agama Katolik, cuma untuk melahirkan anak saja. Agama Katolik juga tidak memberikan hak bagi perempuan untuk menggugat cerai,” papar Laura.

Sekedar informasi, sampai saat ini, perempuan Spanyol yang ingin membuka rekening bank, harus sepengetahuan suaminya. Hal tersebut diungkapkan Yusuf Fernandez Ordonez, sekretaris Federasi Muslim Spanyol, organisasi afiliasi Union of Muslim Women yang dipimpin Laura.

Situasi berubah ketika negara-negara yang mayoritas penduduknya Kristiani, menerapkan sistem sekuler dan gereja-gereja mulai kehilangan pengaruhnya di masyarakat. Kaum perempuan Kristen mulai leluasa untuk mendapatkan hak-haknya, sehingga mereka bisa mengenyam pendidikan yang layak seperti halnya kaum lelaki.

Sementara, Laura berpendapat, meski Islam memberikan banyak hak bagi kaum perempuan, masih banyak hal yang harus dilakukan untuk meningkatkan kondisi kaum perempuan Muslim sekarang ini. Khusus di Spanyol, utamanya adalah para imigran. Menurut Laura yang sudah 17 tahun berkecimpung menangangi isu-isu imigran, kaum perempuan imigran menghadapi persoalan yang lebih pelik dibandingkan kaum lelaki imigran, apalagi jika menyangkut posisi para muslimah.

“Pemerintah Spanyol tidak membuat banyak kemajuan terkait peningkatan hak kaum perempuan Muslim. Undang-undang tentang kesetaraan lelaki dan perempuan yang berlaku di negara ini, tidak memasukkan isu-isu yang berhubungan dengan agama. Saat ini, tidak ada perwakilan dari kaum perempuan dalam Dewan Islam yang selama ini menjadi jembatan dialog antara komunitas Muslim dengan pemerintah,” ujar Laura.

Selain itu, kata Laura, masjid-masjid di Spanyol masih banyak yang membatasi kaum perempuan untuk datang ke masjid. “Dan pemerintah mengabaikan persoalan ini,” tukasnya.

Lebih lanjut Laura mengatakan, persoalan lainnya yang dihadapi komunitas Muslim di Spanyol adalah pemberitaan media massa yang cenderung negatif jika bicara soal Islam. Media massa menggambarkan citra yang buruk terhadap kaum lelaki dan perempuan muslim, seolah-olah kaum lelaki dalam Islam adalah pihak yang suka mendominasi serta gemar melakukan kekerasan terhadap perempuan. Sementara perempuan muslim digambarkan sebagai pihak yang “penurut” dan selalu dikorbankan.

“Kami menyelenggarakan acara-acara tentang komunitas Muslim di Spanyol, tapi perhatian media massa sangat minim. Mungkin beda, jika kami mengatakan akan menimpuki seorang perempuan di pusat kota Madrid, semua media massa pasti akan berkumpul,” tukas Laura.

Persoalan lainnya di Spanyol, tambah Laura, Islam selalu diidentikan dengan ekstrimisme dan terorisme, dan selalu dipersoalkan lewat isu-isu imigrasi. “Padahal seharusnya, Islam harus dilihat sebagai bagian dari identitas Eropa yang tak terbantahkan,” ujarnya.

“Ini persoalan identitas. Kami lahir sebagai orang Eropa, tapi kami muslim. Islam juga bagian dari identitas orang Eropa,” tegas Laura.

Para imigran muslim di Spanyol pada dasarnya mudah berbaur dengan masyarakat negeri itu, dan komunitas muslim tetap menghargai serta mendukung pemerintahan monarki di Negeri Tango itu.

Menurut Laura, prasangka buruk menjadi dimensi sosial yang dihadapi komunitas Muslim di Spanyol. “Jika saya ingin masuk ke sebuah partai politik, mereka akan menolak saya karena saya mengenakan jilbab,” tukas Laura. (ln/IE/Hurriyet)

kumpulan biografi kisah para mualaf masuk islam

This entry was posted in eramuslim.com. Bookmark the permalink.

3 Responses to kumpulan biografi kisah para mualaf masuk islam

  1. kumpulan biografi kisah para mualaf masuk islamMathew Miller: Saat Bersujud, Saya Minta Petunjuk-NyaThursday, 31/03/2011 09:42 WIB | email | printProses untuk menjadi seorang muslim sangat singkat, seseorang yang ingin masuk Islam hanya mengucapkan dua kalimat syahadat, berikrar bahwa "Tiada tuhan selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah."Tapi buat Mathew Miller, 30, kalimat itu merupakan titik kulminasi dari tranformasi kehidupan religiusnya, dari seorang Kristiani menjadi seorang muslim.Ia menimba ilmu di Middle Tennessee University, jurusan komunikasi media digital, dan bekerja paruh waktu di sebuah kursus golf. Sejak kecil ia dibesarkan dengan ajaran Kristen, hobi berselancar dan bercita-cita ingin menjadi seorang DJ radio.Pada CNN, Mathew menceritakan bagaimana ia akhirnya memilih menjadi seorang muslim."Interaksi pertama saya dengan Islam adalah saat menyaksikan film berjudul 'Not Without my Daughter'. Itulah pandangan sekilas saya yang pertama terhadap apa yang oleh masyarakat Barat diyakini sebagai yang sesungguhnya terjadi dalam Islam," ujar Miller.Film yang disebut Miller adalah film produksi tahun 1991, menceritakan seorang perempuan Amerika yang melarikan diri dari negara Iran bersama anak perempuannya. Film itu berdasarkan kisah nyata yang ditulis dalam buku dengan judul yang sama. Buku tersebut menuai kritik karena dianggap bias memandang orang-orang Iran dan Islam.Miller mengungkapkan, ketertarikannya pada Islam sempat terusik setelah terlibat percakapan dengan seorang temannya yang muslim. "Saya merasa sangat takut, tapi tidak apa yang saya takutkan," kata Miller.Ia lalu sering menghadiri salat Jumat di sebuah masjid di Murfreesboro, dan di masjid itulah ia mulai belajar Islam lebih dalam. "Ketika saya bersujud dengan mereka, saya merasa bahwa saya bisa mengatakan apapun pada Tuhan, dan apa yang saya minta saat itu adalah petunjuk. Saya ingin tahu, apakah yang saya lakukan adalah hal yang benar," tutur Miller.Ketika masuk Islam, Miller hampir tak menemui kendala dengan keluarganya. "Saya bilang ke ibu saya bahwa saya sudah masuk Islam di Disneyland. Ia menjawab, 'saya tidak perlu tahu jika saya merasa senang dengan hal itu. Tapi jika itu membuatmu bahagia dan engkau merasa itu adalah jalan yang benar, tidak ada yang bisa aku lakukan,'" ujar Miller menirukan ucapan ibunya.Sekarang, Miller secara rutin menunaikan salat di masjid Islamic Center Murfreesboro. Sebagai warga Murfreesboro yang sudah menetap di kota itu sejak usia 15 tahun, kemudian menjadi seorang muslim, Miller sudah sering mendengar komentar negatif tentang agama Islam yang dipeluknya dan kontroversi seputar masjid di kotanya.Ia pernah mendengar sendiri seorang veteran perang Irak mengatakan bahwa Islamic Center seharusnya tidak dibangun di Murfreesboro, karena bisa berpotensi menjadi "sarang teroris"."Saya menanggapi pertanyaan-pertanyaannya dengan formal, dan lucunya, di akhir percakapan, lelaki itu mengakui bahwa ia sama sekali tidak tahu apa-apa tentang agama Islam," tukas Miller.CNN akan menyiarkan tentang komunitas Muslim di Murfreesboro dalam acara "Unwelcome: The Muslim Next Door", yang dipandu oleh Soledad O'Brien. Acara itu akan ditayangkan pada 2 April mendatang, yang akan mengangkat tentang rentetan perlawanan yang dramatis terhadap pembangunan masjid di Murfreesboro. (ln/CNN)kumpulan biografi kisah para mualaf masuk islam

  2. kumpulan biografi kisah para mualaf masuk islamWilliam Suhaib Webb, Mualaf yang Menjadi "Duta" Islam di ASThursday, 24/03/2011 14:23 WIB | email | printSebagai seorang mualaf, William Suhaib Webb mengakui tidak gampang baginya hidup di tengah masyarakat non-Muslim di AS. Namun ia berusaha untuk menunjukkan citra Islam yang sebenarnya dan menciptakan kehidupan beragama yang harmonis di tengah makin menguatnya kecurigaan dan Islamofobia di kalangan masyarakat AS."Sebagai mualaf yang masih berusia muda, saya tidak sepenuhnya nyaman untuk menjadi siapa saya yang sebenarnya. Saya mengadopsi budaya berbeda, dan saya tidak dibesarkan dengan budaya itu,"" kata Webb dalam wawancara telepon dengan Reuters.Webb yang kini berusia 38 tahun, masuk Islam di awal tahun 1990-an. Keinginannya yang besar untuk menggali ilmu tentang Islam, membuatnya memutuskan untuk pergi ke Timur Tengah."Saya datang ke Timur Tengah dengan euforia yang tinggi dan konsep-konsep yang utopis," tutur Webb yang sekarang menjadi imam di sebuah masjid di AS dan mengelola situs untuk anak muda Muslim.Webb belajar syariah Islam di Universitas Al-Azhar, Mesir. Saat belajar di Al-Azhar ia menyadari ada kesalahpahaman yang salah tentang agama Islam yang baru dipeluknya. "Begitu saya belajar syariah, saya mulai menyadari bahwa … wah, saya sudah salah memahaminya, dan saya benar-benar ingin merasa nyaman dengan siapa saya dan dengan merangkul diri saya sebagai seorang pribadi manusia," tukas Webb.Semangatnya mempelajari Islam dan aktivitasnya sebagai seorang mualaf, terutama di kalangan anak muda selama lebih dari satu dekade, membuahkan hasil dan pada tahun 2010, Webb terpilih sebagai salah satu dari 500 orang "Most Influential Muslims in the World" oleh sebuah lembaga think-tank Islam di AS.Selain membina anak-anak muda Muslim, Webb juga dikenal sebagai sosok yang membela hak-hak kaum perempuan dan aktif melibatkan komunitas agama dalam berbagai kegiatan.Webb menyatakan, radikalisasi tumbuh subur di AS ketika Muslim dan non-Muslim sama-sama meyakini bahwa Islam tidak sesuai dengan Amerika. "Muslim adalah bagian dari kekayaan budaya AS dan sudah menjadi bagian dari budaya kita lebih dari …siapa yang tahu berapa lam," imbuh Webb.Ia tidak menutup kemungkinan adanya ekstrimis yang membujuk anak-anak muda Muslim, menyesatkan mereka dari ajaran Islam yang sebenarnya. Di sisi lain, anak-anak muda Muslim juga diasingkan oleh non-Muslim karena pandangan mereka yang salah tentang Islam dan Muslim.Isu radikalisme Muslim di AS mencuat kembali ketika Komite Dewan Keamanan Dalam Negeri Kongres AS menggelar rapat dengar pendapat tentang radikalisasi di kalangan Muslim AS yang digagas senator Peter King.Keith Ellison, muslim pertama AS yang menjadi anggota Kongres mengecam rapat dengar pendapat itu dan meyatakan King secara tidak adil sudah menyamaratakan semua Muslim atas tindakan yang dilakukan segelintir Muslim radikal.Isu Islam dan Muslim makin panas di AS, menyusul maraknya sikap antisyariah Islam di AS. Sedikitnya 13 negara bagian di AS menyatakan menolak penerapan syariah Islam. Belum lagi polemik rencana pembangunan masjid dan Islamic Center di dekat Ground Zero yang baru saja mereda.Menurut Webb, semua permasalahan itu muncul karena kesalahpahaman sebagian besar masyarakat AS terhadap Islam dan Muslim. "Muslim Amerika, mau tidak mau harus bersentuhan dengan budaya Amerika, agar bisa memberikan jawaban pada budaya Amerika, tentang persoalan dalam budaya Amerika," tukasnya. (ln/oi)kumpulan biografi kisah para mualaf masuk islam

  3. kumpulan biografi kisah para mualaf masuk islamFreeway: "Islam adalah Hidup Saya"Monday, 28/03/2011 09:07 WIB | email | print"Agama saya adalah segalanya buat saya. Agama yang membuat saya selalu bergerak setiap hari," kata Freeway, penyanyi rap terkenal di AS, berkomentar tentang agama Islam yang dipeluknya dari usia remaja hingga sekarang."Islam adalah hati saya, Islam adalah jiwa saya," kata lelaki yang sekarang sudah memiliki dua putra itu dalam wawancara dengan CNN.Freeway yang bernama asli Leslie Pridgen mengucapkan dua kalimat syahadat saat usianya masih 14 tahun. Sejak menjadi seorang muslim, sifatnya yang temperamental layaknya seorang anak ABG (Anak Baru Gede) banyak berubah dan mengantarnya menjadi seorang bintang penyanyi rap seperti sekarang ini.Freeway menyatakan sangat bangga menjadi seorang muslim. Baginya, Islam sudah menjadi bagian hidupnya. Meski ia mengakui, keimanannya berubah-ubah ketika ia dewasa dan menjadi seorang artis. Ia harus menyeimbangkan antara kehidupannya sebagai seorang muslim dan kredibilitasnya sebagai seorang artis hip-hop,Setiap hari Jumat, Freeway bergegas ke masjid Al-Aqsa Islamic Society di North Philadelphia untuk menunaikan salat Jumat. Ia juga sangat selektif memilih kata-kata untuk syair lagunya dan selalu menanamkan dalam pikirannya bahwa para penggemarnya bisa mengambil manfaat dari lagu-lagunya."Para penggemar saya bisa mendapatkan lebih dari sekedar musik, karena saya menyampaikan banyak pesan. Sekarang saya makin peduli dengan apa yang saya katakan, karena dalam Islam, kami meyakini bahwa kami akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang kami ucapkan," kata Freeway.Pengalaman hidup telah membentuk Freeway menjadi seorang lelaki dewasa yang matang, seorang ayah, seorang artis dan seorang muslim. Ia pernah kehilangan seorang sepupu dan seorang sahabat dekat dalam sebuah peristiwa kekerasan bersenjata. Sejak itu pendekatannya berubah dan membuatnya menjadi lebih dewasa."Saya tentu saja tidak berada dalam situasi yang sama ketika saya pertama kali memulainya, ketika saya masih berkeliaran di jalan, luntang lantung melakukan hal-hal yang gila. Setiap hari adalah kerja, setiap hari adalah godaan," tukasnya.Meski sudah menjadi seorang artis rap terkenal, Freeway tetap menempatkan agamanya di atas segalanya. Dan ia bukan satu-satunya artis rap muslim di Philadephia yang bersikap demikian."Ada Lupe Fiasco, Q-Tip, Mos Def–mereka semua secara terbuka mengakui sebagai muslim," kata Amir Abbasy, manager Freeway.Sebagai seorang publik figur, Freeway tidak segan-segan untuk berbagi pengalam hidupnya dengan orang lain. Ia misalnya, menjadi pembicara dalam sebuah workshop tentang bullying di sekolah Philadelphia pada hari yang sama ketika Kongres AS menggelar dengar pendapat tentang radikalisasi Muslim Amerika yang digagas oleh Senator Peter King, ketua Komite Keamanan Dalam Negeri di Senat AS.Freeway menilai dengar pendapat itu sudah dengan tidak adil menyoroti Muslim di Amerika. "Itu sebuah kebodohan, sebuah omong kosong. Anda tidak bisa menilai seluruh masyarakat hanya dari segelintir orang yang melakukan kesalahan," tandas Freeway yang selalu menjaga salat lima waktunya.Managernya, Amir Abbasy mengakui kesungguhan Freeway untuk menjadi seorang muslim yang taat. "Suatu saat, ketika ia memutuskan untuk berhenti menyanyi, agamanya tetap bersamanya. Agamanya, itulah hidupnya. Ia akan bangun tanpa mikrofon di tangannya, tapi ia akan bangun untuk salat," tukas Abbasy. (ln/oi)kumpulan biografi kisah para mualaf masuk islam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s