Disfungs ereksi ganggu hubungan pasutri

Kumpulan artikel seks | konsultasi seks | pendidikan seks | posisi seks kamasutra
Pages

* Beranda

Senin, 25 April 2011
Disfungs ereksi ganggu hubungan pasutri
DISFUNGSI ereksi acapkali muncul dalam sebuah hubungan pasangan suami istri. Jika dibiarkan, masalah serius ini tentu dapat mengganggu keharmonisan rumah tangga. Lantas, solusinya seperti apa?

Disfungsi ereksi (erectile dysfunction) adalah ketidakmampuan seseorang mempertahankan ereksinya dalam waktu lama untuk meraih hubungan seksual yang paling memuaskan. Masalah disfungsi ereksi ini biasanya banyak menimpa kaum pria. Penyebab utama munculnya disfungsi ereksi di antaranya faktor fisik yang bisa menyebabkan mereka memiliki berbagai macam penyakit atau faktor psikologis seperti kelelahan, stres, dan seringnya mengonsumsi alkohol.

Menurut Dr Herdinan Bernard Purba SpRM, seksolog dari RSCM, pada kasus umum, disfungsi ereksi (DE) yang dipicu masalah fisik sering mengakibatkan terganggunya atau bahkan merusak aliran darah.

Namun jika seorang pria masih bisa ereksi setiap pagi dan melakukan masturbasi sampai klimaks, berarti DE yang mereka alami lebih disebabkan masalah psikologis.

“Banyak juga pria yang menderita DE dari gabungan antara masalah fisik dan psikologis. Dan biasanya, pria lebih mudah mengalami stres dan tertekan, sehingga membuat masalah itu bertambah parah,” kata Dr Herdinan ketika dihubungi okezone melalui telepon genggamnya, Jumat (9/5/2008).

Kondisi DE, sambungnya, dapat disebabkan juga oleh faktor kejiwaan. Artinya, disfungsi seksual ini banyak dipengaruhi karena faktor stres mental dan fisik.

“Salah satu penyebabnya karena kesibukan berkerja atau karena capek fisik dan menderita psikis. Kondisi seperti ini akan membuat pasangan tidak pernah puas atau belum apa-apa baru dipenetrasi langsung lemas,” ungkapnya panjang lebar.

DE juga memicu masalah dengan pasangan, bukan hanya hilangnya kenikmatan saat berhubungan seks namun juga timbulnya sebuah perasaan bahwa mereka telah melakukan sesuatu yang salah. Bahkan, mereka sering merasa sedih, frustasi, cemas, dan tertekan.

“Disfungsi ereksi sering dihubungkan dengan munculnya rasa depresi, hilang rasa percaya diri, persepsi diri yang buruk, serta meningkatnya rasa gelisah atau ketegangan dengan pasangan seksual. Untuk mengetahui DE, harus mengetahui penyebab utamanya atau akar masalahnya terlebih dahulu,” terang pria bertubuh tinggi besar ini.

Nah, untuk mengatasinya ada beberapa cara yang dapat dilakukan. Menurut pria berjanggut ini, bila penyebab DE karena faktor psikologis maka harus mengubah gaya hidup seperti tidak tidur malam, merokok, minum-minuman beralkohol atau faktor lain yang secara tidak langsung mengganggu fisik seseorang.

“Kasus disfungsi ereksi dapat diobati dengan berbagai cara. Keberhasilan pengobatan DE dapat ditandai dengan perbaikan pada fungsi ereksi dan fungsi seksual yang kemudian akan menghasilkan perubahan positif pada hubungan emosional maupun seksual dengan pasangannya,” beber pria ramah ini.

Masih menurut Dr Herdinan, saling terbuka dengan pasangan kita dan saling mengenali kelemahan setiap pasangan, paling tidak komunikasi intensif akan membantu menyelesaikan masalah dan mengurangi rasa tertekan. Jadi, jangan takut kalau DE itu sebenarnya bisa disembuhkan. (nsa)

Sumber : http://www.okezone.com
0 komentar:

Poskan Komentar

«
»
Beranda
Lihat versi web
Didukung oleh Blogger

This entry was posted in - - - - - artikel dechacare.com. Bookmark the permalink.

One Response to Disfungs ereksi ganggu hubungan pasutri

  1. Saudaraku, Jangan Ujub!Kategori Akhlaq dan Nasehat | 07-10-2010 | 5 KomentarSegala puji bagi Allah, Rabb seru sekalian alam. Salawat dan keselamatan semoga terus terlimpah kepada Nabi dan para sahabatnya. Amma ba’du.Jumlah pengikut yang banyak, organisasi yang mapan, kekuatan finansial yang besar, dan sarana yang serba lengkap terkadang membuat manusia lupa akan hakekat dirinya yang lemah dan senantiasa membutuhkan pertolongan Allah ‘azza wa jalla. Acapkali ‘perasaan besar’ tersebut menyeret kepada bangga diri dan ujub dengan kemampuan dirinya. Seolah-olah semuanya sudah berada di bawah kendalinya. “Kemenangan sudah di pelupuk mata.” “Kita tidak akan kalah, jumlah kita banyak.”Allah ta’ala berfirman (yang artinya), “Sungguh, Allah telah menolong kalian dalam berbagai tempat yang banyak, demikian pula pada perang Hunain; ketika itu jumlah kalian yang sedemikian banyak telah membuat kalian ujub, namun ternyata jumlah yang banyak itu sama sekali tidak mencukupi bagi kalian, dan bumi yang luas pun menjadi terasa sempit bagi kalian, kemudian kalian pun lari tunggang-langgang…” (QS. at-Taubah: 25)Ketika itu, sebagian di antara mereka -para sahabat- ada yang berkata, “Pada hari ini kita tidak akan kalah gara-gara jumlah yang sedikit.” Tatkala penyakit ujub itu menyelinap ke dalam hati mereka, maka Allah berikan pelajaran bagi mereka… Padahal, mereka itu adalah para Sahabat Nabi -orang-orang termulia di atas muka bumi setelah para nabi- sejumlah 12 ribu pasukan kaum muslimin kocar-kacir di awal pertempuran dalam menghadapi 4 ribu pasukan musyrikin dari kabilah Hawazin… (lihat Taisir al-Karim ar-Rahman, hal. 345). Sungguh pukulan yang sangat telak dan menjatuhkan mental kaum muslimin! Dimanakah jumlah yang besar yang dibanggakan itu? Kalau bukan karena pertolongan Allah, maka mereka sudah hancur berkeping-keping…!Bagi orang-orang yang telah merasa dirinya besar, hebat dan kuat -dengan organisasi, yayasan, dan lain sebagainya- maka waspadailah penyakit ganas ini! Karena hal itu akan menghancurkan kalian…! Ibnul Qayyim rahimahullah berkata, “Tidak ada suatu perkara yang lebih merusak amalan daripada perasaan ujub dan terlalu memandang jasa diri sendiri…” (al-Fawa’id, hal. 147). Semoga Allah membalas kebaikan salah seorang Ustadz kami -semoga Allah menjaganya- yang menasehatkan hal ini kepada kami; untuk tidak merasa diri besar… Yang pada akhirnya akan menimbulkan dampak-dampak negatif, semisal berkobarnya api hizbiyah, terlalu mengutamakan kepentingan kelompok, dan memaksakan keinginan kepada pihak lain yang tidak sejalan pemikiran… Allahul musta’aan!Ibnu Sa’ad menceritakan di dalam kitabnya ath-Thabaqat, bahwasanya Umar bin Abdul Aziz apabila berkhutbah di atas mimbar kemudian dia khawatir muncul perasaan ujub di dalam hatinya, dia pun menghentikan khutbahnya. Demikian juga apabila dia menulis tulisan dan takut dirinya terjangkit ujub maka dia pun menyobek-nyobeknya, lalu dia berdoa, “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari keburukan hawa nafsuku.” (dikutip dari al-Fawa’id, hal. 146)Saudaraku, salafus shalih telah memberikan teladan kepada kita untuk tidak bersikap ujub. Ingatlah, bahwa segala kebaikan yang ada pada diri kita berasal dari anugerah Allah ta’ala, bukan semata-mata karena kekuatan dan kemampuan kita! Bahkan, kalau Allah berkehendak niscaya saat ini kita masih tenggelam dalam alam kejahiliyihan dengan aneka ragam maksiat dan kedurhakaan kepada Allah ta’ala. Tidakkah kalian ingat nikmat yang agung ini wahai ikhwan?….. Lantas dimanakah ungkapan rasa syukur kalian kepada-Nya? Apakah kalian sekarang telah lebih mengutamakan dunia daripada akherat, sehingga sedemikian beratnya kalian untuk berjuang dengan ikhlas di jalan-Nya?!Penulis: Abu Mushlih Ari WahyudiArtikel http://www.muslim.or.id

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s