Mencintai Orang-Orang Lemah

Mencintai Orang-Orang Lemah
Senin, 25/04/2011 10:13 WIB | email | print

oleh Aidh Abdullah al-Qarni

Ibnul Qayyim dalam Raudahatul Muhibbin menceritakan tentang Abu Bakar ra bahwa ketika shahabat Abu Bakar diangkat menjadi khalifah, disebutkan setiap hari sesudah menunaikan shalat shubuhnya, dia selalu keluar. Kepergiannya ini diperhatikan oleh Umar Ibn Khattab.

Ternyata Abu Bakar pergi ke sebuah kemah yang ada di salah satu pekampungan kaum muslimin, dan Umar mengikutinya. Setelah Abu Bakar keluar dari kemah itu, kemudian Umar masuk ke dalam kemah itu, tanpa sepengetahuan Abu Bakar. Ternyata di dalamnya Umar mendapatkan seorang wanita yang tua renta, dan tidak memiliki keluarga lagi. Umar pun bertanya, “Wahai hamba perempuan Allah, siapakah engkau?”. Wanita tua renta itu menjawab, “Aku seorang nenek yang tunanetra, lemah, lagi tak berdaya, serta tanpa keluarga”, jawabnya. “Lalu apa keperluan orang yang selalu datang kepadamu ini?”. Ia menjawab, “Aku tidak mengenalnya”, ucapnya. Umar bertanya, “Mengapa dia datang kemari?”. Wanita renta menjawabnya, “Dialah yang membuat makanan bagi kami, membersihkan rumah, dan memerah susu kambing buat kami”, tambah wanita renta itu. Mendengaqr jawaban wanita itu, Umar menangis sejadi-jadinya, dan mengeluarkan kata-kata, “Wahai Abu Bakar, kalau demikian, engkau akan membaut mereka yang diangkat menjadi khalifah sesudahmu benar-benar kepayahan (untuk mengikuti langkahmu).

Demi Allah, hal ini benar-benar menggambarkan ketaqwaan yag sesungguhnya, yang tidak pernah akan lagi yang dapat menyamainya. Termasuk ketaqwaan dan memotivasi diri untuk mengamalkannya adaslah membaca perjalanan hidup kaum salaf yang ditinggikan kedudukannya oleh Allah Ta’ala. “Hai Jarir mereka itulah bapak moyangku,maka sebutkanlah kepadaku orang-orang yang semisal mereka, bila kita berada dalam pertemuan yang besar!”.

Rasulullah shallahu alaihi wa sallam, pernah bertanya, “Apakah ada seseorang diantara kalian yang puasa hari ini? Abu Bakar menjawab, “Saya!”. Rasul bertanya, “Adakah seseorang diantara kalian lyang mengeluarkan shadaqah pada hari ini?”.Abu Bakar menjawab, “Saya!”. Rasul shallahu alaihi wa sallam, bertanya, “Adakah seseorang diantara kalian yang menjenguk orang sakit?”. Abu Bakar kembali menjawab,”Saya!”. Maka Rasulullah shallahu alaihi wa sallam, bersabda, “Tidak lah sekali-kali semua pekerti ini terhimpun dalam diri seseorang dalam hari yang sama, melainkan dia pasti masuk surga”. (HR.Muslim).

Ketaqwaan yang dilakukan Abu Bakar ra ini merupakan bentuk manifestasi dari interpretasi terhadap makna taqwa, bukan sekadar teori yang membuat mulut kita berbuih, dan menakutkan kita. Sekarang kita hanya bisa mengadu kepada Allah tentang realita yang oleh keadaan. Di mana kehidupan yang ada dipenuhi dengan berbagai bentuk kezaliman terhadap umat Islam.

Seorang tabi’in kepada Sufyan at-Tsauri, mengatakan, “Wahai Abu Sa’id, para shahabat telah pergi dengan mengendari kuda pilihan, sedang kita pergi dengan mengendarai keledai”.

Sufyan Tsauri menjawab, “Demi Allah, kita benar-benar dapat bergabung dengan mereka selama kita menempuh jalanyang sama dengan mereka, meskipun kendaraan kita yang kita tunggangi adalah keledai, tetapi dengan syarat hendaknya kita tetap pada jalur, arah, dan jalan yang sama seperti yang ditempuh oleh mereka.

“Ketika Nabi shallahu alaihi wa sallam, sedang berbicara kepada para shahabatnya, tiba-tiba berdirilah seorang lelaki Arab pedalaman yang langsung bertanya, “Bilakah Kiamat terjadi?”. Rasulullah balik bertanya, “Bekal apakah yang telah engkau persiapkan untuknya?”. Lalu, lelaki itu menjawab, “Aku mempersiapkan untuknya dengan banyak shalat, banyak puasa, banyak shadaqah, tetapi aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.” Nabi shallahu alaihi wa sallam, bersabda, “Engkau akan dihimpunkan bersama dengan yang engkau cintai”. (HR. Bukhari-Muslim).

Imam Syafi’i telah mengatakan dalam bait-bait syair, ” Aku mencintai orang-orang yang shalih,meskipun diriku bukan dari kelangan mereka, mudah-mudahan aku mendapatkan syafa’at , karena mereka. Dan aku benci terhadap orang-orang yang perniagaannya hanyalah kedurhakaan, meskipun kita mempunyai barang dagangan yang sama”.

Banyak kalangan orang yang berupaya melupakan kesalahan-kesalahannya, tetapi justru yang mereka rasakan adalah kepedihan, kecemasan, kekecewaan, keputusasaan, dan semakin jauh dari Yang Maha Esa, karena sesungguhnya orang yang makin mendekatkan dirinya kepada Allah, niscaya Allah mendekatkan dan memberi hadiah. Sebalikknya, barang siapa menjauh dari-Nya, Allah akan membuatnya sempit. Wallahu’alam.

This entry was posted in eramuslim.com. Bookmark the permalink.

One Response to Mencintai Orang-Orang Lemah

  1. Belajar Iman DipenjaraJumat, 30/07/2010 14:30 WIB | email | printOleh Hanif Sang Pemberontak SuciIni cerita tentang orang-orang yang disebut teroris itu, tentang mereka yang menurut masyarakat adalah sampah yang layak dimusnahkan, tidak semua sih orang yang berbicara seperti itu tapi kebanyakan penilainnya negative.Dengan aktivitas saya yang kadang-kadang suka keluyuran di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan untuk mengikuti sidang para tersangka teroris, ngobrol dengan mereka, berbagi cerita dan semua hal dengan mereka. Banyak hal yang membuka mata saya, kenapa mereka melakukan aksi yang dikategorikan terorisme oleh pemerintah dan media.Disana saya seolah-olah diajak kembali ke zaman Rasulullah, dimana orang-orang disiksa karena keyakinannya. Ada Putri Munawarah, seorang ibu dengan bayi kecilnya, yang ikut ditembak densus 88 karena dia bersuamikan “teroris”, miris dan sedih.Menurut pribadi saya yang awam, kasus seperti Putri Munawwarah adalah ujian keimanan terdahsyat abad ini, bayangkan seorang ibu muda ( masih berumur 20 taunan) harus mengalami ujian lahir dan bathin yang sangat berat, bagaimana tidak berat, suami tercintanya meninggal dipelukannya dan tembakan dibagian paha adalah pelengkap derita untuk seorang wanita yang sedang mengandung, bayangkan seorang wanita mengandung bayi !.Tidak berhenti disitu saja, setelah dibawa ke Jakarta dia melahirkan seorang anak laki-laki ditengah proses hukum yang dijalaninya, bayangkan bila prempuan itu anda atau saudara perempuan anda, apakah yang anda pikirkan, sukar buat saya pribadi untuk membayangkan bila itu terjadi oleh orang-orang terdekat saya.Sekarang putri munawarah di ancam penjara 8 tahun, dituduh bersekongkol dengan teroris, seorang wanita yang tidak tahu menahu dituduh teroris karena suaminya adalah teroris, sangat tidak masuk di akal dan sulit dibayangkan.Itu sekelumit cerita tentang seorang wanita yang harus menanggung sesautu yang tidak dia perbuat, ini bagi saya saya adalah sebuah fenomena bahwa kisah-kisah kepahlawan umat Islam dalam mempertahankan iman bukanlah isapan jempol.Maka saya sarankan bila anda mengalami gejala iman turun, silahkan berkunjung kepenjara-penjara tersangka teroris, disana anda bias berbicara dengan pelaku dan lebih tahu kenapa mereka berbuat seperti itu.Maka semoga sekelumit cerita diatas menambah Iman kita kita kepada Allah, dimana seorang wanita begitu tabah dalam segala kesusahan yang menimpanya. Kenapa kita tidak?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s