Dunia Bukan Sinetron Penjual Surga

Oleh Syaripudin Zuhri

Banyak orang yang terlalu muluk menghadapi dunia, hingga terkadang yang ada dalam pikirannya sesuautu yang sangat idealis, sehingga tidak membumi. Semua dalam bayangan orang yang sangat “perfect” adalah kesempurnaan. Sementara kita mengatahui bahwa tak ada sesuatu pun di dunia ini yang sempurna, bagaimana pun kejadiannya pasti ada sesuatu yang nampak tak sempurna, ada saja kekurangannya, dan memang dunia bukan tepat kesepurnaan (Surga).

Jadi sangat bermimpi kalau segala sesuatu yang mendunia harus dianggap seperti Surga atau disamakan bentuk dan setuasinya seperti di Surga adanya, ya tentu saja mustahil, tentu saja sebuah “mission imposible” kalau mengharapkan sebuah rencana atau apapun namanya harus sempurna.

Ya bagaimana pun matangnya sebuah rencana, bagaimana pun bagusnya sebuah proses atau bagaimana pun kerasnya sebuah usaha, namun bila rencana itu sudah dimatangkan dan sudah dibuat menjadi sesuatu yang nyata, pasti bila sudah jadi, akan terlihat, ini kurang, itu kurang, makanya biasanya, sesudah proses dilewati, akan ada evaluasi.

Apa tujuannnya? Ya apa lagi kalau bukan untuk mencari kelemahan atau kekurangan proses yang sudah berjalan, ternyata hasil lagi-lagi tak sempurna, ada saja kekurangannnya, padahal itu sudah di kaji berulang-ulang, agar suatu proses yang sedang dikerjan atau sudah dikerjakan nyaris sempurna, tapi nyatanya tidak.

Lalu apa mesti putus asa kalau sesuatu yang direncanakan itu tak sesuai dengan apa yang diharapkan, atau menyesali apa yang sudah terjadi, padahal apapun bentuk penyesalan terhadap segala sesuatu yang sudah berlalu, tak akan terjadi lagi, sang waktu tak bisa diputar balik, semuanya berjalan menurut arah sang waktu.

Maka penyesalan dalam bentuk apapun tak ada gunanya, penyesalan yang datangnya terlambat, tak bisa merubah apa-apa, tak bisa merubah sang waktu untuk kembali mundur! Jadi karena dunia ini bukan Surga, bertindaklah wajar, tidak berlebihan, dan tidak menuntut segala sesuatu mesti apa yang sesuai dengan yang kita inginkan.

Dunia sengaja diciptakanNya bukan dalam bentuk yang sempurna, dan itu menunjukkan agar manusia mewujudkannya sebagai sesuatu yang diraih, bukan diberi, tapi diusahakan oleh tangan manusia itu sendiri, agar dunia yang menjadi Surga walau hanya dalam tanda kutip.

Berjalah kau, wahai manusia dan jalan membentang di jalannya tidak mesti semulus jalan tol, pasti ada kekurangannya dalam perjalanan hidupmu, hal itu biasa, tak ada manusia yang luput dari suka dan duka, tak ada manusia yang murni 100% baik dan tak ada manusia jahat 100%. Pada diri manusia seringkali di tengah-tengah keburukaya, ada kebaikanya dan sebaliknya kita sering mengenal manusia yang di tengah-tengah kebaikanya ada sisi buruknya. Itulah sebabnya ada pepatah “Tak ada gading yang tak retak”. Pada gading yang retak itulah, gading menjadi lebih indah!

Dunia bukan Surga, maka jangan mengharap yang muluk-muluk terhadap apapun, terimalah hidup ini apa adanya. Kebahagiaan hakiki tidak akan pernah kamu temukan di dunia ini, kebahagiaan di dunia ini hanya semu, hanya bayangan. Jangan mengharap terlalu tinggi, pada apapun yang bersamamu, kepada siapa saja, ya istrimu, ya anakmu, ya muridmu, ya kepada teman dan sahabatmu serta kepada orang-orang yang ada disekelilingmu.

Dunia ini bukan Surga, terlalu banyak apa yang kamu terima tidak sesuai dengan yang kamu harapkan, jadi di dunia yang bukan Surga ini harus selalu siap kecewa. Harus siap menerima yang bukan kamu harapkan, harus siap menerima apa yang tidak kamu inginkan, harus siap menerima yang kamu tidak kehendaki. Kecewa, wajar karena kamu manusia biasa, bukan manusia super, bukan wali, bukan nabi, bukan rasul dan bukan orang suci yang mampu begitu tabah dalam menjalani penderitaan betapapun dasyatnya.

Dunia bukan Surga, disekelilingmu banyak sekali hal yang tidak berkenan dengan kepribadianmu, dengan sikap dan watakmu, tapi ada disekelilingmu, ada bersamamu dan hidup bertahun-tahun bersamamu. Apa kamu harus lari? Jangan! Hidup ini bukan Surga, yang serba enak, yang serba mudah, yang tidak ada kesusahan sedikit pun di dalamnya. Jadi jangan pernah bermimpi untuk hidup begitu enak, begitu nikmat, begitu bahagia …. mimpi pun jangan!

Karena selagi kamu hidup di dunia, kesusahan itu akan terus ada, kesulitan itu akan terus datang, penderitaan itu akan terus menjelma, kekecewaan itu akan terus bergema di dinding hati, di rumah-rumah mewah, apa lagi di rumah-rumah kumuh, di wajah-wajah cantik apa lagi di wajah-wajah buruk, di wajah-wajah tanpa dosa dan di wajah-wajah penuh maksiat.

Dunia bukan Surga, maka suka dan duka akan terus saling berganti, tangis dan tawa akan terus berganti, senyum dan sinis salin berbagi, jangan pernah mengharap hidup di dunia tanpa penderitaan, tanpa kesusahan, tanpa ujian, tanpa cobaan, nonsen! Tidak akan pernah terjadi hidup di dunia ini bahagia 100 %, enak 100 %, nikmat 100 % tanpa ada kecewa sedikitpun.

Jangan pernah bermimpi di dunia kamu akan dikelilingi oleh bidadari-bidadari yang cantiknya tak terkirakan atau dikelilingi oleh sarana dan prasarana yang paripurna, yang serba wah, serba mewah, serba mencukupi. Apapapun kenikmatan di dunia itu bukan syurga, belum apa-apa. Kebahagian apapun di dunia belum ada apa-apanya dibandingkan kebahagiaan di Surga. Dunia bukan Surga, dunia bukan Surga, dunia bukan Surga…!

Nah dengan demikian, dengan sebuah keyakinan bahwa dunia bukan Surga, maka manusia akan semakin bijak melihat orang lain, karena dia yakin di tengah keburukan orang lain, pasti ada kebaikannya dan di tengah kebaikan orang lain, pasti ada sisi gelapnya, entah banyak atau sedikit.

Maka hargailah manusia sebagaimana manusia sebagai mana adanya! Ingat, manusia adalah makhluk biasa, bukan rasul, bukan nabi, dan juga bukan malaikat yang tak pernah punya kesalahan, karena memang tak punya hawa nafsu.

Maka kalau wajarlah kalau manusia punya kesalahan, kekurangan, ketakmampuan dan lain sebagainya. Nah karena dalam dirinya banyak kekurangan, kesalahan dan ketidakmampuan maka manusia terus menerus belajar, belajar dan belajar. Saling mengisi dan berbagi, saling memberi dan menerima.

Manusia yang sadar akan kekurangannya akan menyebabkan menjadi rendah hati, tawadlu dan tidak menyombongkan dirinya sendiri, bahkan terus berusaha untuk memperbaiki diri sepanjang kehidupannya. Dan seandainya pun dia dihina atau dianggap rendah oleh orang lain, dia tak merasa sedih, duka, atau merasa terhina, bahkan manusia yang menyadari kekurangannya akan berterima kasih kepada orang yang menunjukkan kekurangannya, mengkritik tingkah lakunya atau bahkan menghina perbuatannya, dia akan lapang dada.

Loh buat apa marah? Kalau memang pada initinya manusia itu adalah makluk yang sangat lemah, jangankan dengan bintang buas yang sebesar singa atau macan, dengan makluk yang tak terlihat, yang begitu kecil seperti virus saja manusia kalah dan betapa banyak manusia mati, gara-gara kena virus! Seperti computer yang terserang virus, blep, mati dan layarpun menjadi hitam legam tanpa warna! Begitupun manusia, lemah sekali, sama viruspun kalah!

Nah kalau dengan virus saja kalah, jangan mengharap Surga di dunia dan dunia memang bukan Surga. Di Surga tak ada virus, di Surga tak ada yang namanya penyakit, kelelahan, kekurangan, keburukan dan lain sebagainya. Maka setelah menyadari bahwa dunia memang bukan Surga, bertindaklah yang wajar, jangan berlebihan. Terimalah siapaun dia yang ada di sampingmu, yang kini, mungkin, telah jadi suami/istrimu dengan segala kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Jangan membayangkan keindahan saat masih menjadi sepasang kekasih, yang saat itu semuanya serba indah, persis seperti di film-fim atau di sinetron-sinetron yang serba mudah dan serba indah adanya, tak kekurangan apa-apa, semua serba mulus dan menarik. Tapi lagi-lagi karena dunia ini bukan Surga dan bukan sinetron yang menjual mimpi-mimpi, hingga, maaf, ibu-ibu bisa berjam-jam, berhari-hari, bahkan sampai bertahun-tahun terus menerus mengikuti sinetron yang menjadi idolanya, terus saja dininabobokan oleh sinetron yang menjual mimpi tadi, yang menjual Surga begitu murah meriah.

Kadang bahkan sampai lupa masak, lupa mengurus suami dan anak-anak, dan lebih repot lagi lupa segalanya, hanya karena sinetron yang menjual keindahan dan kenikmatan duniawi tadi. Untuk itu marilah kembali membumi, marilah kembali ke dunia nyata, dunia yang penuh dengan suka dan duka, dunia yang penuh dengan tangis dan tawa, dunia yang penuh dengan keringat dan air mata, bahkan dengan darah! Itulah dunia, inilah dunia, kitalah dunia ini. Kapan keindahan abadi? Kapan kebahagiaan terasa selamnya? Kapan kenikmatan tak pernah berkurang? Itu nanti di Surga, bukan di dunia ini!

“Perumpamaan taman surga yang dijanjikan kepada orang-orang yang bertakwa itu ialah suatu taman yang di dalamnya ada sungai-sungai yang airnya tidak berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari susu yang rasanya tetap tidak berganti-ganti, sungai-sungai dari anggur yang amat sedap rasanya bagi orang yang memimumnya dan sungai-sungai dari madu yang bening jernih. Di sana mereka memperoleh segala macam buah-buahan serta pengampunan dari Tuhannya.” (QS. Muhammad : 15)

“Sampaikanlah berita gembira kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, bahwasannya untuk mereka itu adalah surga yang dibawahnya mengalirlah sungai-sungai. Setiap mereka memperoleh pemberian dalam surga dari macam buah-buahan, mereka berkata: Ini adalah pemberian yang pernah kita terima dahulu dan mereka memang diberi pemberian yang serupa. Juga bagi mereka di dalam surga itu akan memperoleh jodoh yang suci dan mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah: 25)

“Dan beredarlah (melayani) di sekitar mereka itu bujang-bujang yang tetap tinggal muda. Kalau engkau lihat mereka, engkau kira mereka itu adalah mutiara yang bertaburan. Dan ke mana saja engkau melihat, engkau akan melihat kenikmatan (merasa amat senang sekali) serta kerajaan yang besar. Bujang-bujang muda itu mengenakan pakaian yang serupa sutra halus yang berwarna hijau dan pula sutra tebal, juga diberi perhiasan gelang tangan dari perak. Tuhan memberikan minuman kepada mereka dengan minuman yang bersih.” (QS. Al-Insan/Ad-Dahr: 19-21)

“Para ahli surga itu di dalamnya dikaruniai perhiasan berwujud gelang emas dan berlian, sedang pakaian mereka itu adalah sutra.” (QS. Faathir: 33)

“Para ahli surga itu dikaruniai bilik-bilik yang diatasnya ada pula bilik-bilik yang lain bersusun-susun, di dalamnya mengalir sungai-sungai.” (QR. Az-Zumar: 20)

“Para ahli surga itu dikaruniai bidadari-bidadari yang duduk di atas hamparan yang ditinggikan. Sesungguhnya Kami menjadikan bidadari-bidadari itu dengan kejadian yang baru, maka kami jadikanlah mereka sebagai gadis-gadis yang suci, penuh kecintaan dan sebaya saja umurnya. Itu semua untuk dikaruniakan kepada orang-orang yang menerima catatan amalnya dengan tangan kanannya.” (QS. Al-Waqi’ah: 34-38)

Marilah kita berusaha untuk berbuat kebaikan, agar Allah SWT. memasukkan kita kedalam SurgaNya. Aamiin.

http://www.eramuslim.com/oase-iman/syaripudin-zuhri-dunia-bukan-sinetron-penjual-surga.htm

This entry was posted in - - - - - - artikel kuliahbidan.wordpress.com. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s