Suamiku Meninggalkanku

Pertanyaan:
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakaatuh
Ustadz yang dimuliakan Allah,  saya adalah seorang istri (37 th) yang sudah 2 bulan ditinggal pergi suami (34 th). Dia berpikir apakah akan meneruskan pernikahan kami atau tidak, karena dia merasa selama berumah tangga tidak pernah menemukan kebahagiaan yang hakiki. Dia pergi tanpa pamit dengan meninggalkan sepucuk surat.
Memang setelah saya merenung, saya sadar bahwa saya sering cemburu dan marah. Tetapi menurut saya itu semua ada dasarnya. Selama ini suami saya sering tidak jujur kepada saya (masalah gaji dan masalah perempuan). Selama saya kenal dengan suami (1 tahun perkenalan dan hampir 7 tahun kami menikah), sudah 2 perempuan yang mengaku ditiduri suami saya. Yang pertama menjelang pernikahan kami, yg ke 2 kurang lebih 1 tahun belakangan ini. Memang semenjak kami menikah, kami belum dikaruniai momongan. Perempuan yang ke-2 ini bahkan mengejek saya lewat sms bahwa suami saya mau selingkuh dengan dia karena saya mandul (tidak bisa memberikan dia anak). Dia juga sering meneror saya melalui misscall di hp  saya (sampai saya ganti nomor)
Setelah kejadian itu pun saya beberapa kali memergoki suami bertelpon ria dengan perempuan lain di belakang saya. Sepertinya sih orangnya lain lagi. Selama ditinggal pergi, saya lebih mendekatkan diri kepada Allah dengan memperbanyak dzikir dan salat malam, alhamdulillah hati agak tenang. Saya juga berusaha menghubungi suami per telpon/sms tapi tidak pernah diangkat, sms pun tidak ditanggapi. Saya menasihatinya untuk salat istikharah karena ini kan keputusan besar.
Saya juga sudah di-ruqyah syar’iyah oleh seorang peruqyah karena di rumah saya  mengalami hal aneh (bunyi petasan di dalam dan di atas rumah, 15 ekor kalajengking kecil di dapur, padahal rumah tertutup)
Saya bingung, apa yang harus saya perbuat. Dalam buku yang pernah saya baca, saya tidak boleh menuntut cerai suami karena akan diharamkan bagi saya bau surga. Saya juga tidak mau bercerai karena takut murka Allah. Tapi hati saya sakit. Saya sering teringat suami dan saya sangat sedih. Saya juga menginginkan rumah tangga yang barakah, tenang, tenteram.
Bagaimana jika saya menanyakan keputusan suami, kalau mau kembali segeralah kembali atau jika mau bercerai, bercerailah dengan cara yang baik? Atau sebaiknya saya diam saja?
Mohon nasihat Ustadz pada saya. Sepertinya cobaan ini bertubi-tubi dan sungguh berat bagi saya. Oh iya, saya sudah tidak punya orang tua, yang ada hanya kakak-kakak saya. Mereka sudah sebal dengan suami saya. Terima kasih.

(“dayan ina”, **…..@yahoo.co.id)

Jawaban:

Wa ‘alaikumussalam warahmatullahi wabarakaatuh
Alhamdulillah. Pada prinsipnya, sulit bagi kami untuk menakar persoalan yang belum kami cermati dan kami amati realitasnya secara tepat, dari berbagai sudut pandang. Terutama sekali kalau sudah berkaitan dengan persoalan suami istri. Karena, —terus terang—  kami tidak mau menyudutkan satu pihak, tanpa alasan yang dibenarkan. Tapi, kita hanya diminta pertanggungjawaban atas apa yang kita ketahui secara lahir. Dan kami yakin, Saudari jujur dalam penuturan.

Pertama, soal kecemburuan Saudari. Kecemburuan itu soal wajar, bahkan terkadang dibutuhkan, di satu waktu bisa diharuskan. Namun sebagai langkah dasar, perlu diketahui terlebih dahulu bahwa rasa cemburu itu bisa menimbulkan bahaya besar, bila tidak diletakkan pada tempatnya.

Kecemburuan tanpa alasan yang benar,  harus diwaspadai lebih ketat lagi. Karena kecemburuan tersebut mengandung prasangka yang diharamkan, mengandung kecurigaan atau bahkan tuduhan yang tidak diperbolehkan dalam Islam, kecuali dengan bukti-bukti yang jelas.

Imam Ali juga pernah memberikan nasihat, “Waspadalah terhadap kecemburuan, karena kecemburuan adalah kunci perceraian. Jangan banyak mengecam, karena kecaman itu melahirkan kebencian.2”

Namun, kalau kecemburuan itu karena alasan yang jelas, seperti realitas membahayakan dari sikap pasangan, suami misalnya, itu justru diharuskan, meski juga tetap harus ditakar, jangan dibiarkan meluap-luap tak terkendali.

Suami yang tidak menjaga perasaan istrinya, sehingga selalu meremehkan perasaannya, terlalu mudah cemburu, menganggap perasaan istri ibarat angin lalu, jelas tidak dibenarkan. Tapi seorang istri yang meluapkan kecemburuan (meski dengan alasan benar) secara membabi-buta, juga tidak dibenarkan dalam Islam.

Soal ketidakterusterangan suami, itu sikap yang tidak benar. Karena konsep pergaulilah pasanganmu dengan baik, menuntut adanya sikap berterus terang terhadap pasangan. Orang yang berpengalaman dalam hidup rumah tangga secara baik akan tahu betul, betapa artinya sebuah keterusterangan, dalam menjalani rumah tangga. Ketidakterusterangan, hanya bermuara dari dua hal saja:

Pertama, keinginan seorang suami (atau istri) untuk tidak membiarkan pasangannya bersedih, menderita atau susah, bila mengetahui realitas sesungguhnya, sehingga berupaya ditutup-tutupi. Kami harap, begitulah sosok suami Saudari.

Kedua, untuk menutup-nutupi kesalahan, perselingkuhan, kecurangan dan sejenisnya. Banyak pasangan (suami atau istri) yang menganggap pasangannya sebagai orang yang paling mudah dibodohi, dibohongi, dan ditipudaya. Betapa tidak, karena dasar dari kehidupan pasutri adalah adanya saling percaya terhadap pasangannya. Itulah kelebihan sekaligus kelemahan yang sering disalahgunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Kami berharap, bukan demikian sosok suami Saudari. Karena, memang, betapa perihnya menghadapi pasangan yang pandai berselingkuh, dan pandai pula menutupinya.

Untuk kasus suami Saudari yang kepergok ber-sms ria dengan wanita asing, memang, itu satu hal yang tidak pantas dan patut disesalkan. Tapi, jangan cepat menarik kesimpulan bahwa suami Saudari telah berselingkuh dengan wanita itu. Apa yang dilakukan suami Saudari adalah maksiat dan perbuatan dosa yang harus dihindarkan oleh setiap pasangan suami istri. Tapi harus dicatat,  bahwa selingkuh adalah soal khusus yang harus dibuktikan dengan cara khusus pula. Dalam Islam, seorang suami atau istri dipastikan berzina, bila disaksikan oleh empat orang saksi yang langsung melihat proses perzinaan, yang kalau dalam hadits disebutkan seperti masuknya tongkat ke dalam lubang.  Itu jelas sulit didapatkan. Tapi, begitulah Islam melindungi agar jangan sampai ada orang yang salah dituduh sebagai pezina, padahal ia belumlah berzina. Kalau seorang suami bercanda, bahkan berpacaran, bermaksiat, atau bahkan sampai berpelukan dan –maaf—  berciuman dengan wanita yang bukan istrinya, itu jelas maksiat, tapi juga bukan lantas disebut berzina. Suami seperti itu layak diberikan peringatan keras, dinasihati (dengan perantaraan orang yang diseganinya, seperti orang tua atau kakak kandungnya). Karena, dari situlah akan bermula perjalanan panjang yang akhirnya bermuara pada perzinaan, yakni perselingkuhan yang sesungguhnya.

Sekadar pengakuan satu dua wanita yang katanya dihamili oleh suami Saudari, itu juga soal klasik. Artinya, bisa saja memang terjadi, tapi realitas juga membuktikan, betapa banyakya wanita yang karena saking cintanya terhadap seorang pria yang telah beristri, nekat mengatakan dirinya telah dihamili pria itu, bahkan dengan pengakuan palsu di hadapan istri pria tersebut!

Kita tidak menampik kemungkinan hal itu bisa saja terjadi, tapi jangan memutus perkara sedemikian rupa, sebelum pasti segalanya. Karena, keutuhan rumah tangga tetap menjadi tujuan utama, bila masih bisa dipertahankan untuk tegak di atas rambu-rambu Islam.

Cara  yang Saudari tempuh sudah tepat, dengan melakukan ruqyah syar’iyyah. Tapi,  bila mampu, lakukan saja sendiri. Karena ketergantungan terhadap ruqyah, sangat tidak dibenarkan dalam Islam, karena dapat melemahkan jiwa dan mengurangi keutamaan. Bila seseorang berkenan meruqyah tanpa Saudari minta, itu bagus. Dan lebih bagus lagi, bila Saudari sendiri yang melakukannya. Bisa dibaca buku-buku terjemahan panduan ruqyah  menurut sunnah yang ada di pasaran sekarang ini, atau minta petunjuk dari seorang ustadz yang beraqidah lurus dan memiliki kredebilitas Islam yang baik.

Karena, bisa saja kondisi rumah tangga kalian sedikit terguncang, karena kedengkian pihak lain, yang mungkin berupaya menggunakan kekuatan setan, bantuan jin kafir, sihir dan sejenisnya. Perbanyaklah membaca dzikir, salat malam, dan jangan lupa memperdalam pengetahuan agama terutama di bidang tauhid. Karena itu adalah akar kekuatan sesungguhnya dari ketabahan sejati.

Setelah itu,  lakukan beberapa langkah praktis, misalnya berdialog dengan suami. Bila terlihat suami melakukan kekeliruan, lakukan nasihat dengan baik dan santun, bila perlu dengan bantuan orang lain.

Wanita yang tidak akan mencium bau surga adalah yang meminta cerai tanpa alasan yang dibenarkan syariat. Bila suami Saudari terbukti berselingkuh,  atau melakukan pelanggaran berat dan tidak dapat dinasihati lagi,  boleh saja seorang istri meminta cerai. Bahkan, suatu saat bisa menjadi kewajiban, bila tanpa bercerai seorang istri akan terjerumus dalam maksiat.

Tapi, jangan terburu-buru mengambil keputusan. Cobalah mempertebal kesabaran, sambil menelaah persoalannya satu per satu, dan menyelesaikannya. Kami berharap, suami Saudari tidaklah seburuk yang tampak dalam perilaku kesehariannya. Tapi kalau memang demikian, yakinlah, wanita baik-baik akhirnya akan berjumpa dengan pria baik-baik pula. Demikian juga sebaliknya. Wallahu a’lam.

(Ustadz  Abu Umar Basyier)

http://sutraungu.wordpress.com/page/3/

This entry was posted in - - - - - - artikel kuliahbidan.wordpress.com. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s