Ejakulasi Dini

Ejakulasi Dini atau Bukan ?

Mei 12, 2007 oleh seksfile

“Saya pria, sudah menikah dan punya dua anak. Saya sangat senang membaca artikel dan jawaban tentang masalah seksual di dalam keluarga melalui media ini dan juga Kompas online. Saya tergolong pria yang mengalami ejakulasi dini. Apabila berhubungan dengan istri, saya selalu lebih dulu mencapai puncak, sedangkan istri belum. Namun, ada cara yang saya buat hingga istri bisa menikmati puncaknya, dan kami selalu merasa senang bersama.

Yang menjadi kekesalan saya adalah kenapa saya terlalu cepat puncak, apakah karena terlalu bernafsu atau pengaruh psikologis? Saya bisa mencapai puncak hanya dalam 3 menit tetapi kalau lagi senang sepulang dari kantor, bisa 10-15 menit. Pokoknya bisa diatur. Pentanyaan saya, apakah ada cara untuk mengatasi ejakulasi dini? Apakah pengobatan alternatif (dukun kampung) bisa mengobati hal ini? Iklan di koran banyak memuat tentang pengobatan penyakit ini sehingga saya berpikir untuk ke sana, tetapi masih takut.”(H., Manokwari)

Jawaban:

Obat dan Latihan

Sudah sering saya jelaskan di rubrik ini mengenal ejakulasi dini. Meski demikian, saya mengerti kalau masih saja ada pembaca yang mengajukan pertanyaan mengenai masalah itu. Justru kenyataan ini menguatkan data klinis mengenai banyaknya pria yang mengalami ejakulasi dini atau merasa khawatir dirinya mengalami ejakulasi dini.Sayangnya, uraian Anda agak membingungkan. Di bagian awal Anda menyatakan selalu mengalami ejakulasi lebih dulu dari pada istri. Namun, di bagian lain Anda menyatakan dapat mengatur terjadinya ejakulasi. Bahkan, Anda dapat mengatur sampai berlangsung 10-15 menit.Kalau benar Anda dapat mengontrol terjadinya ejakulasi, sebenarnya Anda tidak mengalami ejakulasi dini. Apalagi kalau kehidupan seksual Anda dan istri tidak terganggu, seperti pengakuan Anda, “Kami selalu merasa senang bersama.”

Latihan Mengontrol

Pengertian ejakulasi dini ialah ketidakmampuan mengontrol ejakulasi sampai pasangan mencapai orgasme, dengan syarat tidak ada disfungsi seksual di pihak wanita. Kalau ternyata Anda dapat mengontrol, apalagi istri dapat mencapai orgasme, saya pikir Anda tidak mengalami ejakulasi dini.Sebagai informasi, ejakulasi dini dapat diatasi baik dengan obat maupun latihan mengontrol ejakulasi. Mengenai cara alternatif seperti yang diiklankan di koran, saya tidak tahu cara apa. Yang pasti, cara pengobatan yang diakui secara internasional adalah cara yang saya sebutkan di atas.Sebagai bangsa yang ingin maju, saya pikir semua warga bangsa harus mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam membangun semua aspek kehidupan. Kalau tidak, kita akan tertinggal dan tetap menjadi bangsa yang bodoh.

Ditulis dalam Ejakulasi Dini dan Impotensi | 3 Komentar
Suka
Be the first to like this post.
3 Tanggapan

1.
pada Mei 19, 2007 pada 4:03 am | Balas budi

saya seorang pelajar kls 3 sma,saya sering melakukan onani dari smp.jika saya onani cuma bertahan semenit dong.
apakah sampai saya menikah seperti ini?…
maksudny cepat kluar sperma
giman solusiny agar penis saya tahan lama
makasih sebelumnya

2.
pada Mei 23, 2007 pada 3:32 pm | Balas seksfile

Hi Budi,
Silakan buka catagory Pengobatan Ejakulasi Dini, anda akan menemukan solusi untuk ED pada usia muda. Thanks

3.
pada Juni 27, 2007 pada 5:00 am | Balas jamz

hai..saya pria berumur 23 tahun..dulu semasa smp saya sering melakukan onani sampai menginjak bangku kuliah. Sekarang saya merasa khawatir saya mengidap ejakulasi dini. Karena saya mudah sekali terangsang dan pernah suatu ketika saya melakukan onani cepat sekali mengalami ejakulasi(hanya 1 menit). Mengenai cepat sekali terangsang, ketika saya bertemu dengan pacar saya dan berdekatan kadang penis saya mengeluarkan cairan semen(yang katanya itu normal jika terangsan).Cuma yg saya pertanyakan apakah normal jika hanya bersentuhan saja, berpegangan tangan saya terangsang dan mengelurakan cairan tersebut. Ditambah lagi pernah ketika itu kami bercumbu dengan masih berpakaian,selang beberapa menit kemudian saya mengeluarkan sperma(mengalami ejakulasi). Apakah saya mengalamai ED?mohon bantuannya..sebelumnya saya ucapkan terimakasih…

=====================

Homoseksual Jangan Menikah

Mei 12, 2007 oleh seksfile

Apakah homoseksual dapat diubah menjadi heteroseksual? Tergantung apa penyebabnya. Kalau karena faktor sosiokultural dan lingkungan, masih bisa. Namun, jika memang homoseksual tetapi ingin menikah dengan lawan jenis, sungguh tidak fair bagi pasangan.

Kasus:

“Saya seorang pemuda 29 tahun, lajang. Beberapa bulan lagi saya akan menikah dengan seorang gadis. Saya sangat takut menghadapi kenyataan ini karena saya mempungai masalah dengan perilaku seks saya. Dulu saya pernah punya pacar, tetapi akhirnya dia menikah dengan pilihan orangtuanya. Beberapa bulan kemudian, saya bertemu dengannya lagi. Sejak saat itu kami sering melakukan hubungan layaknya suami istri. Nah, beberapa waktu lalu, ketika akan berhubungan dengan dia di sebuah hotel, saya langsung lemas tak bergairah. Mulai saat itu saya tidak lagi berani mengajaknya ke hotel karena malu.

Saya akui bahwa saya memang punya kecenderungan menyukai sesama jenis. Saya punya teman akrab seorang lelaki yang sudah menikah. Hampir setiap hari kami jalan bersama. Dia berbadan gemuk. Setiap saya jalan dengan dia dan kebetulan kulit kami bersentuhan, saya langsung ereksi. Sepertinya ia menikmatinya juga. Begitu pun bila jalan ke mal, saya suka melihat pria berbadan gemuk, tetapi saya tidak berniat untuk berhubungan badan dengan mereka. Karena kuatnya keinginan untuk menepis perasaan yang menyimpang ini saya memutuskan sepihak pertemanan dengan sahabat saya itu. Saya takut rasa ini berlarut-larut dan susah untuk dihilangkan. Anehnya, saya malah tersiksa karena saya semakin rindu dengannya. Pertanyaan saya, apakah saya bisa diobati? Saya ingin membangkitkan kembali rasa yang dulu ada ketika pertama kali berhubungan intim dengan pacar dan ingin melenyapkan perasaan suka sesama jenis ini!”(I, Palu, Sulawesi Tengah)Jawaban:

Temukan Penyebabnya

Saya pikir masalah utama Anda ialah kecenderungan homoseksual itu. Kalau benar Anda punya kecenderungan homoseksual, tidak aneh kalau Anda mengalami hambatan ketika melakukan hubungan seksual dengan mantan pacar yang sudah bersuami itu.Masalahnya, sejak kapan kecenderungan homoseksual itu Anda alami? Apakah memang sejak awal? Ataukah muncul kemudian, khususnya setelah Anda ditinggal menikah oleh pacar Anda? Apakah Anda juga tertarik kepada lawan jenis? Apakah rencana pernikahan Anda karena terpaksa agar dianggap pria normal ataukah karena memang tertarik kepada calon istri?Pertanyaan tersebut perlu ditujukan kepada Anda untuk memastikan apakah benar Anda seorang homoseksual atau normal saja atau biseksual. Secara teoretis, ada empat faktor penyebab homoseksual (tertarik hanya pada sesama jenis).Pertama, faktor biologis, berupa gangguan di otak sejak awal. Kedua, faktor psikodinamik karena gangguan perkembangan psikoseksual pada masa anak-anak. Ketiga, faktor sosiokultur. Keempat, faktor lingkungan.Faktor penyebab ini sangat penting dipahami karena berkaitan dengan harapan dapat tidaknya seorang homoseksual diubah menjadi heteroseksual. Seorang heteroseksual berarti tertarik kepada lawan jenis.

Perlu Konsultasi

Di antara keempat faktor penyebab tersebut, faktor pertama merupakan faktor yang tidak mungkin dilenyapkan. Ini berarti seorang homoseksual dengan penyebab faktor tersebut, tidak mungkin dapat disembuhkan dan menjadi heteroseksual (tertarik pada lawan jenis). Penyebab faktor kedua juga merupakan faktor yang sangat sulit, kalau bukan tidak mungkin diatasi.Bila penyebabnya faktor ketiga dan keempat, masih sangat mungkin dapat diatasi sehingga perilaku homoseksual dapat ditinggalkan dan menjadi heteroseksual. Walaupun begitu, tidak selalu mudah meninggalkan perilaku homoseksual.Perbedaan faktor penyebab inilah yang merupakan jawaban mengapa ada orang homoseksual yang kemudian dapat menjadi heteroseksual, tetapi banyak yang tetap tidak dapat meninggalkan orientasi homoseksualnya. Dengan kata lain, jangan berharap semua orang homo seksual pasti dapat dijadikan heteroseksual.
Untuk menentukan apakah Anda benar homoseksual,Untuk menentukan apakah Anda benar homoseksual tentu diperlukan konsultasi lebih jauh. Sebagai langkah awal, silakan Anda menjawab pertanyaan di atas. Andaikata benar Anda homoseksual, tentu tidak benar kalau Anda menikah dengan gadis itu.Pernikahan hanya akan menjadi neraka bagi istri Anda.

Ditulis dalam Seks & Reproduksi Pria |

==========================================

Istri Tidak Bergairah Lagi

Mei 12, 2007 oleh seksfile

Setelah punya anak, ia tak lagi bergairah melakukan hubungan seksual. Apakah ini akibat kelelahan, ataukah sebagai efek dari operasi caesar yang pernah dijalaninya?

Kasus:

“Saya seorang ibu rumah tangga berusia 30 tahun, suami berumur 33 tahun. Kami menikah akhir tahun 2002. Menjelang akhir 2004 kami dikaruniai seorang putri cantik yang lahir dengan berat badan 1,8 kg. Usia kandungan saya saat itu 8 bulan. Saya mengalami pecah ketuban, sehingga harus menjalani operasi caesar. Saya kurang tahu mengapa anak kami begitu kecil, padahal berat saya naik 13 kg. Saat hamil saya tinggal seorang diri, tanpa keluarga maupun pembantu. Baru saling mengenal, suami sudah akan berangkat untuk tugas belajar di luar negeri. Kami berdua bekerja di kantor yang sama sebagai PNS. Pengenalan lebih lanjut hanya kami lakukan melalui telepon maupun email. Bahkan, saat melamar pun suami terpaksa menghubungi ayah saya via telepon.

Pada saat nikah, kami hanya punya waktu 2 minggu sebelum dan 2 minggu sesudah untuk bertemu. Suami selalu menyempatkan diri untuk bisa pulang paling tidak setahun dua kali, masing-masing selama satu bulan. Pada saat saya melahirkan, suami bisa mendampingi. Alhamdulillah dia bisa ada di rumah cukup lama, hampir 2 bulan. Ketika belum mempunyai anak, saya merasa tidak ada yang salah dalam hubungan suami istri. Meskipun terkesan kurang aktif, sebenarnya saya juga menikmati hubungan kami. Mungkin karena bisa dibilang kami pacaran setelah menikah dan jarang bertemu, saya begitu manja terhadap suami. Saat itu saya merasa punya banyak waktu luang, sehingga bisa punya banyak waktu untuk diri sendiri termasuk beristirahat, membaca, maupun jalan-jalan pagi, sekadar berolahraga. Saya juga bisa mengembangkan imajinasi dalam berhubungan dengan suami, dan kami begitu terbuka mengenai hubungan intim kami.

Namun, sejak memiliki anak, saya merasa tidak ada lagi gairah dalam melakukan hubungan. Beban kerja saya rasakan semakin bertambah, bukan hanya di kantor, tetapi juga di rumah. Bukan hanya secara fisik tetapi juga beban pikiran. Meski sudah ada pembantu yang meringankan tugas, rasa lelah saya tidak juga berkurang. Selain itu, sifat dan kegemaran saya bermanja-manja pada suami juga mulai menghilang, tergantikan oleh sikap dewasa seorang ibu. Suami adalah orang yang luar biasa dan istimewa untuk saya, sehingga saya kadang merasa bersalah jika pulang, saya tidak ada minat untuk melayaninya. Sering saya merasa sudah tidak punya tenaga lagi untuk berduaan dengannya, dan waktu luang terbaik buat saya adalah untuk tidur/istirahat. Saya tidak ingin hal ini terus terjadi, tetapi saya tidak tahu apa yang harus dilakukan untuk bisa membangkitkan gairah saya lagi.

Yang ingin saya tanyakan, apakah keengganan saya pada hubungan seksuai disebabkan oleh rasa lelah saya? Saya memang merasa tidak punya tenaga lagi untuk melakukan aktivitas yang cukup menguras energi tersebut, bahkan hanya untuk pemanasan sekali pun. Apakah operas/caesar ada hubungánnya dengan sulitnya saya terangsang, padahal suami sudah mencumbu saya di bagian-bagian yang dulu amat sangat sensitif? Akibatnya, saya sering merasakan kesakitan yang menyebabkan saya semakin enggan untuk berhubungan.Apa yang harus saya lakukan? Saya dan suami masih cukup muda, dan kami juga ingin merasakan kehangatan kasih sayang bersama. Saya rasa kami berdua cukup terbuka mengenai masalah ini dan sepakat meminta bantuan pihak ketiga untuk mencoba mengenali masalah dan membantu pemecahannya.”(W.T., Jakarta)

Jawaban:

Evaluasi Kebugaran

Surat Anda sengaja saya muat hampir utuh agar tidak terlalu mengubah ekspresi Anda dalam menyampaikan masalah yang kini Anda alami. Menjawab surat Anda, saya ingin mengingatkan bahwa fungsi seksual dipengaruhi oleh faktor fisik dan psikis.Faktor fisik pada dasarnya adalah keadaan kesehatan yang baik dengan kesegaran dan kebugaran yang baik. Faktor psikis menyangkut perasaan atau suasana hati. Jadi, kalau menginginkan fungsi seksual baik, kedua faktor ini harus baik. Setiap gangguan dalam bentuk apapun pada kedua faktor itu dapat mengganggu fungsi seksual. Mengenai fungsi seksual, ada empat komponen yang termasuk di dalamnya, yaitu dorongan seksual, bangkitan seksual, orgasme (dan ejakulasi bagi pria), dan
kepuasan seksual.Kepuasan seksual acapkali dikacaukan dengan orgasme, padahal orgasme hanyalah semata-mata sensasi kenikmatan seksual. Sementara kepuasan seksual juga melibatkan emosi.Disfungsi seksual dapat terjadi pada salah satu atau lebih komponen tersebut. Karena itu, dapat terjadi gangguan dorongan seksual, gangguan bangkitan seksual, hambatan orgasme, dan gangguan ejakulasi pada pria.Lakukan EvaluasiKalau Anda menyatakan tidak bergairah lagi atau sulit terangsang, perlu dipastikan apakah Anda mengalami hambatan dorongan seksual ataukah dorongan seksual Anda normal tetapi bangkitan seksual Anda yang tenhambat, seperti tidak mengalami perlendiran vagina. Kemungkmnan ini perlu dipastikan untuk menentukan jenis gangguan seksual apa yang Anda alami.Kalau Anda merasa sakit setiap melakukan hubungan seksual, itu sangat mungkin karena tidak terjadi perlendiran vagina yang cukup. Gangguan ini dapat terjadi karena Anda mengalami hambatan dorongan seksual atau karena mengaami gangguan bangkitan seksual. Keadaan ini secara fisik tidak ada hubungannya dengan operasi cesar.Namun, apa pun yang Anda alami, tampaknya faktor fisik lebih dominan sebagai penyebab disfungsi seksual Anda. Ini sesuai dengan pengakuan Anda yang sepulang kerja sering merasa sudah tidak punya tenaga lagi untuk berduaan dengannya, dan waktu luang terbaik adalah untuk tidur/istirahat. Tentu saja mudah dimengerti kalau dalam keadaan demikian fungsi seksual terganggu. Untuk mengatasi masalah Anda, lakukan langkah berikut. Pertama lakukan evaluasi apakah beban kerja Anda secara fisik dan psikis melampaui kemampuan. Kedua, lakukan pemeriksaan kesehatan untuk mengetahui status kesehatan Anda. Ketiga, lakukan evaluasi untuk mengetahui keadaan kebugaran tubuh Anda. Dengan langkah ini, Anda dapat mengetahui mengapa Anda sering merasa tidak punya tenaga lagi seusai kerja.Kalau penyebabnya diketahui, dapat lakukan langkah keempat, yaitu mengatasi penyebab tersebut. Saya sarankan Anda dapat melakukan ketiga langkah tersebut. Selanjutnya, langkah keempat pun dapat dilakukan. Tentu selanjutnya Anda memerlukan konsultasi dan pemeriksaan.

Ditulis dalam Seks & Reproduksi Wanita |

This entry was posted in - - - - - - artikel kuliahbidan.wordpress.com. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s