Mendulang Pelajaran Akhlak dari Syaikh Abdurrozzaq Al-Badr -hafizhahullah- (seri 1)

(dikutip dari buku : “DARI MADINAH HINGGA KE RADIORODJA”

(Mendulang Pelajaran Akhlak dari Syaikh Abdurrozzaq Al-Badr, hafizhahullah)

Oleh: Abu Abdil Muhsin Firanda)

Prolog

Semangat beribadah terkadang memudar, semangat menuntut ilmu terkadang menyurut. Padahal, dalil akan keutamaan menuntut ilmu telah banyak dihafalkan. Demikanlah, jiwa terkadang dijangkiti rasa malas dan diserang rasa bosan.

Sungguh, betapa banyak orang yang akhirnya kembali bersemangat, bahkan lebih bersemangat dari sebelumnya dan terdorong untuk mencapai derajat yang tinggi disebabkan sejarah yang dibacanya, dikarenakan cerita yang didengarnya. Terlebih lagi jika itu adalah cerita teladan yang didengarnya atau dibacanya dari orang yang hidup di zamannya.

Terkadang, jiwa tatkala diceritakan sejarah para sahabat atau para salafus shalih maka jiwa tersebut akan berbisik seraya mengeluh, “Itu kan cerita orang-orang dulu? Masanya kan berbeda? Kita sekarang berada di zaman penuh fitnah, zaman di mana kita sangat membutuhkan materi… dan tentunya tidak bisa disamakan dengan zaman salafus shalih.”

Demikianlah, jiwa selalu mencari-cari alasan untuk bisa melegitimasi kekurangan yang ada padanya. Namun, bagaimana jika cerita teladan tersebut tentang seorang yang di zamannya…? Terlebih lagi, orang tersebut ternyata masih hidup dan pernah dia temui…? Dan, ternyata kita bisa menimba ilmu darinya…? Tentunya hal ini akan lebih membekas dan memberi perubahan positif terhadap jiwa.

Inilah yang mendorongku memberanikan diri menulis percikan pelajaran yang aku peroleh dari salah seorang ulama di kota Madinah tatkala Allah memberiku kesempatan untuk ber-safar bersama beliau, Profesor Doktor Asy-Syaikh Abdurrozzaq bin Abdul Muhsin Al-’Abbad Al-Badr hafizhahumallahu.

Tadinya sama sekali tidak terbetik di benakku untuk menyusun tulisan ini. Namun, sebagian ustadz memintaku menulis pengalamanku bersama Syaikh Abdurrozzaq. Demikian juga dengan sebagian ikhwah, mereka memintaku menyusun tulisan ini agar faedahnya lebih meluas. Permintaan tersebut tidak langsung aku iyakan keculai setelah berlalunya hari demi hari, dan setelah melalui banyak perenungan, akhirnya aku pun memberanikan diri menyusun tulisan ini.

Bukanlah maksudku agar para pembaca bersikap ghuluw atau mengultuskan beliau. Demi Allah, bukan itu maksudku. Kita semua tahu betapapun kedudukan dan akhlak beliau, masih banyak ulama yang lebih berhak untuk dikultuskan; jika saja pengkultusan itu diperbolehkan. Tentunya beliau tidak bisa dibandingkan dengan para ulama ujung tombak dakwah Ahlus Sunah di zaman ini seperti Syaikh Abdul Aziz bin Baaz, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin, Syaikh Muhammad Nasiruddin Al-Albani rahimahumullah, dan sebagainya. Mereka lebih utama untuk dijadikan teladan.

Dan bukannya maksud tulisan ini tidak ada lagi ulama yang masih hidup yang seperti Syaikh Abdurrozzaq. Tentunya masih banyak ulama yang berakhlak mulia dan berilmu tinggi, bahkan mungkin lebih utama dari beliau. Akan tetapi, masalahnya hanyalah “kesempatan.” Allah telah memberi aku kesempatan untuk ber-safar dengan beliau. Adapun para ulama yang lain tentunya aku tidak mengetahui dengan detail.

Bukan berarti pula bahwa Syaikh tidak punya kekurangan dan kesalahan. Yang terjaga dari kesalahan hanyalah para nabi. Akan tetapi, maksud dari goresan tanganku ini adalah untuk menyebutkan keutamaan dan contoh-contoh teladan dari beliau, yang semoga dengan ini bisa menggugah semangat yang masih terpendam, atau semangat yang sedang mengendor.

Masih banyak keutamaan beliau yang tidak tercantum dalam tulisan ini. Selain karena situasi dan kondisi, juga karena banyak hal yang belum aku ketahui.

Dan “jika air telah mencapai dua kullah maka tidak akan mengandung najis,” bagaimana lagi jika mencapai jumlah yang banyak sebanyak air di lautan.

Akhirnya aku memohon kepada Allah agar menjadikan tulisan ini bermanfaat bagi para pembaca, terutama bagi penulisnya yang jauh dari akhlak dan ilmu Syaikh Abdurrozzaq. Semoga Allah mengampuniku atas dosa-dosa yang tampak maupun yang tersembunyi. Sesungguhnya Dia adalah Tuhan Yang Maha Menerima Taubat dan Mahasayang kepada hamba-hambaNya. Bahkan, rahmat-Nya mencakup hamba-hamba yang penuh dosa.

Amin Ya Rabbal ‘alamin.

PRIBADI YANG ENGGAN DIPUJI

Sebuah Pengalaman yang Menginspirasi

Syaikh Abdurrozzaq pernah menjadi moderator saat Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin menyampaikan nasihat kepada para mahasiswa Universitas Islam Madinah. Syaikh Abdurrozzaq memulai moderasinya dengan kalimat: “Alhamdulillah, pada kesempatan yang berbahagia ini kita akan mendengarkan muhadharah yang akan disampaikan oleh ‘Al-’Allamah’ Muhammad bin Shalih….”

Tiba-tiba, Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin menimpali dengan suara yang lantang: “Uskut !!! (diaam !!)”

Syaikh Abdurrozaq tersentak mendengar kalimat Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin yang memintanya diam. Beberapa saat kemudian barulah beliau sadar bahwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin tidak ridha jika digelari dengan “Al-’Allamah,” orang yang sangat ‘alim.

Peristiwa itu sangat membekas di dalam hati Syaikh Abdurrozaq sehingga beliau sering mengulang-ulang cerita ini dengan mengatakan, “Lihatlah bagaimana Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin sama sekali tidak suka untuk digelari dengan gelar Al-’Allamah. Spontan beliau menegurku di hadapan begitu banyak mahasiswa, tanpa ragu-ragu dan tidak dibuat-buat.”

Sungguh wajar apabila beliau takjub dengan hal tersebut. Saat sekarang, begitu banyak orang yang bangga dan menyenangi gelar-gelar agung padahal bisa jadi orang tersebut tidak pantas atas gelaran tersebut. Sementara, Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin yang memiliki banyak keutamaan dan tentunya layak menyandang gelar tersebut justru tidak menyukainya.

Cerita yang beliau ulang-ulang inilah yang membuat keraguan terus bergulir saat mulai menuliskan kisah ini. Jiwaku diliputi keraguan antara keinginan menyampaikan kisah yang sangat berharga selama perjalanan bersama seorang alim ulama yang kita cintai bersama ini, ataukah lebih baik kusembunyikan saja sehingga hilang bersama berlalunya waktu.

Keraguan itu semakin bertambah tatkala terbayang di mataku bagaimana sikap beliau yang enggan dipuji. Aku rasa, jika beliau mengetahui apa yang kulakukan ini tentu beliau akan marah. Demi Allah, ini bukan sikap berlebih-lebihan terhadap beliau, tapi semata-mata karena aku menyaksikan sendiri bagaimana sikap beliau saat merespons suatu pujian. Namun, pada akhirnya aku memilih melanjutkan menulis kisah ini, terlebih masih tergambar faedah dan sikap-sikap teladan yang kusaksikan langsung, dan hatiku berkata, “Andaikan saudara-saudaraku dan para sahabatku juga menyaksikannya….”

Inilah… Syaikh Abdurrozzaq bin Abdulmuhsin Al-’Abbad Al-Badr!! Sosok yang telah lama dinantikan kehadirannya di tanah air. Terlebih setelah beliau rutin menyampaikan nasihat-nasihat yang sangat berharga bagi orang-orang Indonesia seminggu dua kali melalui radio dakwah ahlus sunah wal jamaah (Rodja 756 AM).

bersambung …

Madinah, 23 04 1432 H / 28 03 2011 M

Abu Abdilmuhsin Firanda

http://www.firanda.com

This entry was posted in - - - - - - - artikel islam dari www.firanda.com. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s