Stroke picu disfungsi seksual

Kumpulan artikel seks | konsultasi seks | pendidikan seks | posisi seks kamasutra
Pages

* Beranda

Minggu, 15 Mei 2011
Stroke picu disfungsi seksual
STROKE merupakan suatu penyakit akibat gangguan aliran darah di otak. Akibatnya, seseorang bisa pula mengalami disfungsi seksual.

Disfungsi seksual yang dapat terjadi akibat stroke ialah dorongan seksual menurun atau hilang, disfungsi ereksi, ejakulasi terhambat, kegagalan orgasme, dan dispareunia.

“Disfungsi seksual tersebut terjadi sebagai akibat gangguan aliran darah akibat stroke dan juga akibat gangguan otak sendiri pada bagian yang berhubungan dengan fungsi seksual,” tulis Prof Dr dr Wimpie Pangkahila SpAnd FAACS dalam bukunya “Seks yang Membahagiakan”.

Menurut Ketua Pusat Andrologi dan Seksologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, Bali ini, untuk mengatasi disfungsi seksual setelah mengalami stroke, seyogianya didasarkan pada jenis penyebab stroke, jenis disfungsi seksual, dan jenis penyebab disfungsi seksual. Maka harus diketahui dengan benar apa penyebab stroke, jenis disfungsi seksual yang terjadi, dan apa penyebab disfungsi seksual itu.

“Dengan mengetahui secara benar, maka penanganan disfungsi seksual menjadi lebih baik dan diharapkan hasilnya juga lebih baik,” tambahnya.

Wimpie mengatakan, konseling sangat penting untuk mengatasi tekanan psikis yang menyebabkan disfungsi seksual, di samping untuk memberikan pengertian yang benar tentang kehidupan seksual setelah stroke.

Selain konseling, Wimpie mengaku, obat-obat untuk memperbaiki sirkulasi darah dan fungsi saraf harus diberikan karena juga akan berpengaruh bagi perbaikan fungsi seksual. Penanganan disfungsi ereksi setelah stroke juga didasarkan pada pilihan berdasarkan tiga tahap pengobatan disfungsi ereksi, yaitu pengobatan lini pertama, lini kedua, dan lini ketiga.

“Memang ada sebagian orang yang tidak merasa perlu mendapatkan penanganan disfungsi seksualnya, karena merasa cukup senang telah terlepas dari serangan maut. Tetapi seyogianya mereka juga memikirkan kepentingan seksual pasangannya. Kecuali kalau pasangannya juga sudah tidak merasa berkepentingan dengan kehidupan seksualnya. Kalau pasangan memang sudah merasa tidak berkepentingan lagi dengan kehidupan seksualnya, maka tidak ada lagi masalah seksual pada pasangan itu,” pungkas Ketua Program Master Ilmu Kedokteran Repoduksi Universitas Udayana, Bali ini.(tty)

Sumber : http://www.okezone.com
«
»
Beranda
Lihat versi web
Didukung oleh Blogger

This entry was posted in - - - - - - artikel kuliahbidan.wordpress.com. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s