Selamat Datang Hidayah

Selamat Datang Hidayah
Senin, 16/05/2011 15:00 WIB | email | print

Oleh Abi Sabila

Hidayah, hadir dengan jalan berbeda dan tidak bisa dipaksa-paksa. Itulah pokok pembicaraan kami malam itu, usai mengaji sambil menunggu waktu Isya datang. Kami saling bertukar cerita, kapan dan bagaimana hidayah datang dan tetap bertahan hingga sekarang.

“Saya kembali rajin sholat tahajjud setelah mendengar sebuah lagu sholawat di komputer saya. Saat itu saya sedang kerja lembur, hanya sendirian. Untuk mengusir sepi, saya memutar lagu-lagu sholawat yang banyak tersimpan di komputer. Entah karena suasana kantor yang sepi, atau karena memang sudah saatnya hidayah itu datang kembali, syair lagu yang menceritakan ketuamaan sholat tahajjud dalam bahasa Jawa itu benar-benar menyentuh hati. Saya yang sudah sekian lama tak mengerjakan sholat tahajjud, kembali tergugah untuk menjalankan sholat tahajjud. Alhamdulillah, sejak itu hingga sekarang saya kembali bersemangat mengerjakan sholat tahajjud. Setiap malam sebelum tidur, saya setel alarm di hp saya agar bisa bangun jam setengah tiga,” kisah salah satu jamaah tentang sebuah syair lagu sholawat yang dirasakannya telah membangkitkan kembali semangat sholat tahajjud yang sudah berbulan-bulan ditinggalkannya.

“Kalau saya kembali rutin berpuasa sunnah Senin-Kamis lantaran teman kerja, ketika saya masih bekerja di perusahaan yang lama. Kala itu hari pertama kerja setelah libur lebaran. Saat jam istirahat, Sarni ( nama teman kerja saya ), tetap asyik dengan pekerjaannya. Ketika saya tanya, rupanya dia sedang puasa sunah bulan syawal. Mendengar itu, saya dan mas Yatno yang kebetulan bertugas satu mesin dengannya sepakat untuk berpuasa sunah bulan syawal muali besok paginya. Alhamdulillah, sejak saat itu saya kembali rajin berpuasa sunah Senin Kamis, juga puasa tengah bulan tanggal 13, 14 dan 15. Sudah lebih dari tujuh tahun kami tak berkumpul lagi,semenjak saya keluar dari perusahaan tersebut. Semoga mereka berdua senantiasa istiqomah dan diberkahi Allah,” kenang seorang jamaah lainnya. Dia merasa dua orang rekan kerjanyalah yang telah membangkitkan kembali semangatnya untuk berpuasa sunnah.

Seorang jamaah yang lain menimpali dengan ceritanya, bagaimana sang istri kini istiqomah mengenakan jilbab di rumah. “Kalau istriku, jujur saja mengenakan jilbab karena awalnya terinspirasi dari salah satu artis yang diidolakannya. Sang artis merubah penampilannya dengan mengenakan jilbab yang sesuai syar’i. Awalnya saya agak cemas, jangan-jangan istriku hanya sekedar mengikuti trend saja, dan kembali melepas jilbabnya jika satu saat sang artis melepaskan jilbabnya. Tapi Alhamdulillah, sudah tiga tahun lebih istriku berjilbab. Bukan hanya ketika hendak bepergian, tapi dirumahpun dia tetap mengenakannya. Yang lebih membuatku bersyukur, rupanya keinginannya berjilbab bukan semata karena artis idolanya. Ia sudah mantap dan merasa nyaman dengan penampilannya sekarang, bahkan ia tak lagi mengidolakan sang artis. Baginya lebih pantas jika ia mengidolakan Siti Khadijah ataupun Siti Aisyah.”

Seorang jamaah di sebelah kiriku membagi cerita tentang kebiasaanya berwudlu ketika hendak bepergian atau berangkat kerja. “Saya sering membaca artikel di salah satu situs Islam, bahkan saya kemudian mengoleksi tulisan-tulisan yang dikirim oleh pembaca situs tersebut dalam komputer saya. Sampai saat ini jumlahnya sudah ratusan bahkan sepertinya sudah hampir mencapai ribuan. Salah satu tulisan yang sangat berkesan dan membawa perubahan pada kebiasaan saya adalah tentang seseorang yang senantiasa menjaga wudhunya. Sebelumnya saya hanya berwudhu hanya ketika hendak sholat atau membaca Al Quran. Tapi setelah membaca artikel tersebut, setiap hendak bepergian, termasuk akan berangkat kerja , saya wudhu terlebih dulu. Hanya saja, saya belum bisa untuk terus memperbaharui wudhu ketika jam kerja. Pernah ada teman kerja yang menyangka bahwa saya mengantuk, sehingga harus mondar-mandir ke kamar mandi untuk cuci muka. Tapi bukan karena itu, bukan karena risih dengan pertanyaan mereka, sebab setelah kujelaskan, mereka tak lagi mempermasalahkannya. Hanya saja, jujur saya sendiri yang belum bisa menjaganya. Ada saja godaannya, paling sering adalah saya jadi sering merasa ingin buang angin, dan terkadang jadi malas untuk sering-sering berwudhu kembali. Tapi paling tidak, setiap mau berangkat kerja dan juga bepergian lainnya, saya selalu mengusahakan untuk berwudhu terlebih dulu. Alhamdulillah, ada perasaan nyaman ketika bepergian dalam kondisi berwudhu.”

“Dulu aku berfikir tak perlu sholat di mushola, toh di rumah aku juga sudah sholat berjamaah dengan istri dan anakku. Namun pandanganku berubah, terutama setelah aku bertemu dengan ‘malaikat’. Aku anggap demikian karena sampai saat ini aku tidak tahu pasti siapa dan yang mana pria muda yang telah mengubah pola pikirku tentang sholat di mushola. Seorang remaja berpakaian muslim, lengkap dengan sarung dan peci berpapasan di jalan, ketika aku baru pulang dari jalan-jalan dengan keponakan. Aku masih ingat, saat itu dia baru pulang dari sholat Ashar di mushola. Ajaib, melihat penampilannya yang sangat jarang kulihat di sekitar sini, terutama untuk anak muda seumuran dia, saat itu juga aku tergugah dan langsung berazam untuk sholat berjamaah di mushola. Alhamdulillah, sejak saat itu sampai sekarang, aku benar-benar telah jatuh hati dengan mushola ini,” kenangku tentang pria muda ‘misterius’ yang sampai saat ini tak pernah kuketahui secara pasti.

“Kalau aku, meski terkadang hanya dua rokaat, aku berusaha untuk tetap sholat Dhuha. Tak masalah jika yang kulakukan terlihat asing di kantorku, karena itu jugalah yang dilakukan oleh teman kerja yang berlainan kantor denganku. Sebelum kerja di perusahaan sekarang, aku hampir tidak pernah mengerjakan sholat Dhuha. Di perusahan yang lama, rasanya belum pernah aku melihat ada yang melakukan sholat Dhuha. Tapi alhamdulillah, di perusahan sekarang aku mengenal seorang yang istiqomah menjalankan sholat Dhuha. Aku salut dengannya, dan aku berusaha untuk tetap menjalankannya sebelum memulai bekerja. Aku sengaja menyisakan tempat seukuran sajadah di sela-sela rak file khusus untuk aku sholat dhuha,” kisah jamaah yang duduk di ujung.

***

Allah memberikan hidayah kepada siapa yang dikehendakinya, dengan jalan yang berbeda-beda.Tak selamanya hidayah datang kepada seseorang pada saat mengikuti sebuah pengajian. Tak jarang, ceramah seorang dai kondang hanya sekedar di dengarkan tanpa mampu menggugah jamaah yang mendengarkan untuk melakukannya. Tapi, terkadang dari sebuah kejadian sederhana yang jauh dari forum-forum pengajian, hidayah itu datang kepada sesorang, menyentuh dan menggerakannya untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.

Hidayah tidak bisa dipaksa-paksa, kalaupun bisa biasanya tidak bertahan lama. Hidayah akan tetap bertahan manakala seseorang menerima dengan segala kesadarannya. Seperti jamaah yang rajin sholat tahajud, ia tak pernah putus asa meskipun istrinya belum mengikutinya. Ia tetap optimis dan berdoa agar Allah memberikan juga hidayah itu pada istrinya. Juga jamaah yang rajin puasa sunah, ia tak pernah terpengaruh rekan-rekan kerjanya yang tidak puasa. Dia berharap, satu saat nanti mereka akan mendapatkan hidayah, sebagaimana dulu dia mendapatkan hidayah melalui teman kerjanya. Atau istri seorang jamaah yang memutuskan untuk mengenakan jilbab, ia tetap istiqomah meskipun ibu dan adik kandungnya sampai saat ini belum mengikuti langkahnya. Ia yakin, keinginan itu sudah ada hanya mungkin masih menunggu waktu yang tepat. Juga jamaah yang selalu menjaga wudhunya, meski sampai saat ini belum bisa selalu memperbarui wudhunya, ia tetap beruasaha agar hidayah itu tetap tertanam di hatinya. Begitupun aku, meski saat kejadian yang kuanggap awal hidayah itu aku bersama dengan keponakanku, sampai saat ini dia belum sepenuhnya melakukan sholat berjamaah di mushola, namun aku yakin satu saat nanti dengan izin Allah ia juga akan mengikuti langkahku. Juga, jamaah yang rajin mengerjakan sholat dhuha tak membuat rekan kerja lainnya tersadar untuk sholat bahkan untuk sholat wajib sekalipun, namun dia tetap berharap satu saat nanti hidayah akan mendatanginya dengan caranya yang terkadang tidak terduga.

Bagaimana dengan Anda? Semoga tulisan ini bisa menjadi jalan agar hidayah itu bisa masuk dan tetap bertahan pada diri kita. Insya Allah…

http://abisabila.blogspot.com

This entry was posted in eramuslim.com. Bookmark the permalink.

One Response to Selamat Datang Hidayah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s