Antara Mencari Uang dan Bekerja

Antara Mencari Uang dan Bekerja
Senin, 06/06/2011 06:53 WIB | email | print

Oleh Muhammad Rizqon

Harto (bukan nama sebenarnya) saat ini sedang semangat-semangatnya menekuni bisnis barunya. Saking semangatnya, profesi konsultan yang melekat pada dirinya pun menjadi dinomorduakan.

Malah fokusnya kini bagaimana menjadikan relasi-relasi kliennya sebagai member dari jaringan bisnis yang baru dibentuknya itu. Soal teknis pekerjaan konsultan, ia lebih banyak mengalihkan ke pihak lain.

Dalam bahasa sederhana, ia lebih suka mensubkontrakkan pekerjaan daripada menanganinya sendiri. Waktunya kini tersita untuk presentasi, membangun jaringan, dan mengaet investor-investor baru untuk bisnisnya.

Alasan kenapa ia menekuni bisnis barunya itu, karena dalam jangka waktu singkat dia telah membuktikan bahwa ternyata bisnis itu begitu menjanjikan. Ia menginvestasikan uang sebesar Rp 10 juta, dan dalam waktu sebulan ia sudah mendapatkan Rp 100 Juta atau sepuluh kali lipat. Dalam jangka waktu enam bulan, ia sudah mendapatkan Rp 500 Juta. Sebagai bukti bahwa ia telah berhasil, ia pernah menunjukkan mobil baru hasil dari pendapatan bisnisnya itu. Luar biasa.

Ia menargetkan dalam jangka waktu setahun bisa mendapatkan Rp 1 milyar. Ini artinya dalam waktu setahun tingkat kembali modalnya (return on investment) adalah 100 kali lipat (10.000%). Jika dirata-rata penghasilannya sekitar Rp 83 Juta sebulan. Penghasilan besar begini tidak ia dapatkan ketika ia menjadi konsultan freelance. Oleh karena itu ia berterus-terang bahwa bekerja sebagai konsultan itu capai dan hasilnya tidak seberapa. Mendingan ia menekuni bisnisnya itu karena bisa menghasilkan pendapatan yang besar dan signifikan.

Sudah tiga kali ia mengundang saya untuk hadir di pertemuan bisnisnya. Dua kali lewat SMS, dan sekali ketika sempat berjumpa langsung. Saya sebenarnya kikuk mendapat undangan dari kakak senior yang saya hormati itu. Jika tidak dipenuhi, khawatir memberi image tidak menghormatinya. Oleh karenanya saya cenderung tidak merespon atau merespon biasa saja ketika ia bersemangat menceritakan bisnisnya itu.

Namun agaknya ia mulai menangkap bahwa saya kurang tertarik dengan bisnisnya. Tempo dulu ia pernah mengajak bisnis serupa di mana targetnya dalam dua tahun bisa membeli mobil BMW. Namun ternyata target itu tidak tercapai. Ia mulai beranggapan bahwa saya mungkin belajar dari pengalaman masa lalu dan sudah tidak tertarik dengan ajakan bisnisnya . Meskipun berkali-kali ia menegaskan bahwa bisnis barunya ini berbeda dan unik, saya sudah antipati dan tidak memiliki ketertarikan dengan bisnisnya itu.

Soal percaya dengan skemanya itu mungkin iya. Namun yang menjadi point bagi saya adalah ketidakwajaran bisnis. Saya khawatir ada pihak yang diuntungkan di atas pihak yang terdholimi. Lagi pula produk bisnisnya itu tidak benar-benar dibutuhkan, kecuali yang menjadi sasaran adalah mereka yang memang suka berpelancong atau mengadakan perjalanan bisnis ke luar negeri.

Ia mengatakan bahwa setiap orang yang ia prospek dan menginginkan uang, maka ia pasti tertarik dengan bisnis ini. Namun karena ia melihat bahwa saya kurang tertarik, ia pun mengambil kesimpulan berdasarkan asumsinya itu.

“Anda ini sebenarnya lebih butuh uang atau pekerjaan? Saya terus terus terang pekerjaan itu banyak. Klien saya banyak. Namun saya capek karena hasilnya kecil dan tidak sepadan. Kalau Anda lebih suka dengan pekerjaan Anda akan capek seperti saya dulu…”

Menanggapi pernyataannya itu saya berujar, “ Saya mohon maaf, saya masih mau fokus di bidang saya. Bukan saya tidak mau uang, tetapi saya berfikir dengan fokus di bidang saya, saya juga akan mendapatkan uang meski tidak sebanyak Bapak peroleh. Kalau saya terjun juga ke bisnis bapak, bagaimana dengan klien-klien saya. Klien bapak juga bagaimana? Gini saja pak, kita berbagi tugas. Jika ada klien yang tidak bisa bapak tangani, serahkan saja ke saya. Biar bapak fokus di bisnis baru bapak.”

Pada akhirnya ia mengatakan, “Okelah kalau memang demikian, nanti klien-klien saya, Anda saja yang menangani.”

‘Bekerja’ dan ‘Mencari uang’ adalah dua terminologi yang akrab dalam kehidupan keseharian. Ketika seorang anak/isteri merasa bahwa kebutuhannya kurang tercukupi oleh orang tua/suami, maka ia memohon agar orang tua/suaminya lebih giat bekerja atau mencari uang.

Dan ketika seorang ayah yang tidak berada di rumah dan ditanya oleh anaknya, ia pun menjawab sedang bekerja atau mencari uang. Dua terminologi itu dalam banyak kasus bisa saling menggantikan untuk maksud yang sama. Namun dalam kasus Harto di atas memiliki makna yang masing-masing berbeda.

Orientasi ‘mencari uang’ adalah murni duniawi. Karena tujuan utamanya adalah ‘uang’ maka prosesnya pun kurang relevan untuk dibicarakan. Entah itu mendholimi orang lain atau tidak maka tidaklah menjadi soal.

Sedangkan orientasi ‘bekerja’ adalah amal dengan mengerahkan segenap pikiran atau tenaga. Proses masih dikedepankan di sini. Jika proses bekerja tidak tepat dan mematuhi pedoman, maka hasilnya pun tidak maksimal.

Ada teman yang mengeluh kenapa ia sudah bekerja keras tetapi hasilnya tidak banyak. Seseorang berkomentar untuk hal ini, “Ya benar saja karena orientasinya BUKAN UANG”. Namun orang yang beorientasi uang banyak juga dikeluhkan sebagai telah mendholimi orang lain atau tidak proper dalam menjalankan bisnisnya. Seseorang berkomentar untuk hal ini, “ Ya benar saja karena orientasinya UANG.”

Saya mengambil hikmah bahwa uang sebaiknya tidak dijadikan parameter utama dan sebaiknya dipahami bahwa bekerja itu bukan semata-mata karena UANG. Sebagai contoh, saya yakin dari sekian banyak penulis yang menulis artikel atau reportase di media on-line, bukanlah semata karena UANG. Ada banyak tujuan lain selain uang.

Alangkah baiknya bila kita berorientasi bekerja dengan sebaik-sebaiknya. Memiliki target pendapatan boleh saja, tetapi itu tidak mengurangi profesionalitas dalam bekerja.

Insya Allah dengan bekerja yang sebaik-baiknya itu, maka Allah akan memberikan hasil yang sepadan. Sayangnya kita boleh jadi sering terlalu naif.

Kita selalu menafsirkan hasil sepadan itu dengan uang/materi yang ujung-ujungnya menimbulkan keraguan kita akan keadilan Allah SWT.

Semoga Allah memberikan pemahaman ‘bekerja’ yang benar kepada kita sehingga ‘bekerjanya’ kita bisa memberikan nilai tambah baik di dunia ini maupun di akhirat kelak. Amin.

muhammadrizqon.multiply.com

This entry was posted in eramuslim.com. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s