PENGALAMAN DIRUQYAH

Hari Senin 27 November 2010, akhirnya saya diruqyah di tempat ruqyah center Abu albani, Jakarta. Sebenarnya selama lebih kurang setahun saya berusaha melakukan terapi mandiri. Mendengarkan bacaan ruqyah CD, membaca ayat-ayat ruqyah dan do’a ruqyah yang dicontohkan dari Rasulullah dan para salafush-salih. Juga membaca dzikir pagi dan petang. Tapi pada akhirnya saya merasa tidak mampu mengatasi masalah ini sendiri lagi. Sebagai upaya untuk mencari kesembuhan, saya harus minta bantuan orang lain yang memang ahli di bidangnya. Yang penting sesuai dengan syariat, bersih dari segala macam kesyirikan dan penyimpangan.

Keputusan untuk diruqyah ini pun tidak mudah. Ini pun baru bisa terlaksana setelah saya diakali teman sekerja saya. Saat ia mengajak saya, terkesan ia ingin diruqyah lagi (ia pernah diruqyah sebelumnya) dan mencari teman yang sama-sama butuh diruqyah. Ketika saya sanggupi, rupanya itu hanya akal-akalan dia supaya saya mau diruqyah. Ia memang datang ke sana sesuai janjinya, tetapi hanya untuk menemani saya.

Bahkan saat menuju tempat ruqyah juga saya merasa berat sekali. Saat masih di dalam angkutan umum saya menangis, tidak menghiraukan pandangan orang lain. Saat saya kabarkan hal ini kepada teman saya itu, dia bilang ini godaan setan yang harus saya lawan (ini biasa terjadi kepada orang yang pergi ke tempat ruqyah, bahkan sering kali tidak jadi berangkat). Setan berusaha menghalang-halangi orang yang akan melakukan ruqyah syar’iyyah. Wallahu alam.

Saya ditangani oleh ustadz Abu albani. Dalam sesi konsultasi sudah saya utarakan keluhan utama saya, yaitu rasa benci yang sangat tidak wajar terhadap seseorang. Insya Allah lain waktu saya akan menulis tentang sihir kebencian (guna-guna) yang telah membuat saya menderita selama beberapa tahun ini. Saya juga mengatakan kepada ustad bahwa seringkali saat mendengarkan bacaan ruqyah, atau berzikir, (terkadang bahkan saat salat juga), saya merasa ada reaksi di tubuh saya. Saya bisa menangis, atau yang lebih sering adalah merasa sangat mual, tetapi kalau pun muntah hanyalah air ludah.

Bahkan sebelum mulai diruqyah, saat masih bertanya jawab dengan ustad, saya sudah menangis lagi. Dengan mengenakan mukena dan sarung di luar pakaian muslimah yang saya pakai, saya pun diruqyah sambil berbaring. Teman saya menemani di ruang ruqyah itu. Sebelumnya ustadz mengajak saya beristigfar beberapa kali. Lalu mulailah ustad Abu albani membacakan ruqyah.

Saya terisak-isak saja sepanjang terapi berlangsung. (Belakangan teman saya mengatakan bahwa tangisan saya benar-benar menyayat hati). Saya tahu saya menangis, tapi sungguh saya tidak tahu persis kenapa dan tidak bisa mengendalikannya. Saya dalam hati hanya memohon kepada Allah pertolonganNya. “Ya Allah tolonglah saya, tolonglah saya.” Saya ingat isakan saya mulai mengeras saat ustadz membacakan ayat Kursi. Di tengah-tengah terapi, ustadz sempat menghentikan bacaannya. Anehnya tangisan saya ikut berhenti juga. Ustad Abu albani bertanya, “Bisa dikendalikan tidak tangisnya?” Dengan jujur saya jawab saya tidak tahu. Saat ustadz melanjutkan bacaan ruqyah, awalnya saya berusaha banget untuk tidak menangis lagi, tapi itu cuma berlangsung beberapa detik saja. Selanjutnya saya kembali terisak-isak hingga terapi berakhir. Hasbunallah wa ni’mal wakiil.

Ustadz Abu albani tidak mau menjawab langsung pertanyaan saya, ‘Benarkah saya kena sihir?” Ia menjawab, “Wallahu a’lam, saya tidak berani memastikan. Tetapi tangisan Ibu memang tidak wajar.” Tapi yang jelas, ayat-ayat ruqyah yang dibacakan untuk saya memang ayat-ayat ruqyah untuk orang yang terkena sihir. Dan kemudian, saran ustadz untuk saya pun adalah saran untuk orang yang terkena sihir. Wallahu a’lam.

Yang jelas sesudah diruqyah saya merasakan adanya perubahan, alhamdulillah. Gangguan yang saya alami hilang sama sekali. Yang jelas di malam hari tidur saya jadi nyenyak, tidak resah dan gelisah seperti biasanya. Ya Allah, sembuhkan saya, hanya Engkaulah yang Maha Menyembuhkan….”

Kalaulah tidak karena mengalami sendiri, rasanya saya juga tidak akan terlalu menaruh perhatian terhadap hal-hal semacam ini…

Tadi malam saya baca di bukunya Syaikh Wahid Abdus Salam Bali (terjemahan), terbitan Robbani Press tahun 1999 yang berjudul “Kesurupan Jin dan Cara Pengobatannya secara Islami,” pada hal. 114. Kutipannya…”Kadang-kadang Anda membacakan ruqyah kepada penderita tetapi semakin keras tangisnya walaupun akalnya tetap normal; jika Anda tanya mengapa dia menangis maka dia akan mengatakan,’Saya menangis karena terpaksa (bukan atas kehendak sendiri) tetapi saya tidak bisa menguasai diri”. Ketahuilah bahwa keadaan ini adalah sihir, wallahu a’lam.” Dan itulah yang terjadi dengan saya. Wallahu a’lam.

Ya Allah, Rabb manusia. Lenyapkanlah penyakit ini. Sembuhkanlah, Engkau jualah Rabb yang menyembuhkan penyakit yang tiada kesembuhan melainkan kesembuhanMu. Dengan kesembuhan yang tiada menyisakan penyakit lagi.”

(Seperti yang diceritakan kembali oleh Ani/ bukan nama sebenarnya)

 

http://www.klinikruqyahsyariyah.co.cc/

This entry was posted in - - - - - artikel dechacare.com. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s