Kiat Mengenal Calon Tanpa Pacaran

Untuk mengenal calon tanpa pacaran dapat kita ketahui melalui cara-cara yang efektif, yaitu :

 

1.Bertanyalah kepada orang yang dianggap paling dekat dengan calon tersebut yang dapat dipercaya sehingga Insya Allah informasi yang kita dapatkan cukup objektif. Dari sinilah kita dapat mengenali sifat-sifat yang tidak nampak dalam tampil sekejap dan sifat-sifat ini penting bagi yang ingin membangun rumah tangga bersama. Dalam sebuah syair diungkapkan ‘ Jika kamu ingin bertanya tentang seseorang tanyalah kepada orang terpercaya yang paling dekat dengan orang tersebut (sahabat), karena orang yang saling bersahabat itu saling mempengaruhi”. Namun untuk mengetahui penampilan/fisiknya tentu dengan melihat dan cara melihatnya tanpa sepengatahuannya.

 

2.Untuk mendapatkan kemantapan, lakukanlah sholat istikharah dan mohonlah kepada Allah karena Dia yang paling tahu mana yang terbaik untuk kita.

 

3.Setelah memiliki kecendrungan yang kuat untuk mempersunting maka langkah selanjutnya adalah perkenalan (ta’aruf) antar keduanya secara lebih dekat yaitu secara langsung, namun tetap menjaga norma-norma Islam.

 

4.Setelah itu, maka diteruskan dengan proses berikutnya sampai akad nikah. Tentu dalam hal ini kedua keluarga memiliki kontibusi yang sangat dominan. Karena keterangan no 1-3 baru menjelaskan bagaimana mengenali sang calon tanpa pacaran.

 

5.Kenapa untuk mengenali sifat-sifat calon tidak melalui pacaran terlebih dahulu ? Karena Pernikahan yang diawali dengan pacaran dapat diibaratkan membeli buku yang dijadikan contoh(sample) dari jenis buku yang mahal. Umumnya buku yang seperti ini di toko-toko buku dibungkus dengan plastik rapat disertai peringatan yang bertuliskan Membuka berarti membeli ‘sehingga bagi para pembeli untuk mengenali buku tersebut secara terperinci ada dua pilihan, yaitu pertama, dengan membuka buku tersebut dan membacanya, akibatnya buku tersebut sangat lecek dan makin lusuh bila semakin banyak orang yang membacanya. Akhirnya hampir semua pembeli menolak untuk menerimanya sebagai barang beliannya kecuali sangat memaksa. Membeli buku seperti inilah ibarat pernikahan yang diawali dengan pacaran. Pilihan kedua, karena buku tersebut mahal terbungkus rapi dan membukanya adalah berarti membeli maka untuk mengetahui isinya sang pembeli bertanya kepada petugas melalui katalog komputer atau terlebih dahulu bertanya kepada orang yang telah memiliki dan membacanya sehingga dia memperoleh buku yang benar-benar baru belum pernah disentuh oleh siapapun termasuk pembelinya. Inilah ibarat orang yang menikah dengan tidak proses pacaran tadi.

 

Pada interval menanti hingga akad nikah nanti memang sering terjadi rindu kangen dan seterusnya. Rindu yang seperti ini merupakan kerinduan yang menjadi kesempurnaan sifat manusia. Kerinduan yang tidak mampu di tolak oleh manusia itu sendiri.

 

Imam Ibnu Qoyyim mengkatagorikan sebagai rindu yang sah-sah saja terjadi pada setiap manusia dan manusia tidak mampu memilikinya dan menolaknya, sepanjang tidak dibawa oleh kerinduan tersebut kepada ma’siat kepada Allah bahkan kita bersabar untuk menahannya maka hal itu tidak apa-apa dan itulah rindu yang karena Allah.

 

Tetapi jika rindu tersebut justru yang membawa kita ke jalan hawa nafsu itulah rindu karena hawa nafsu bukan karena Allah. Wallahu ‘alam

 

http://lixzz.blogspot.com/2010/08/karya-kak-hadi-bin-ahmad-untuk-mengenal.html

 

====================================================================

 

Ngejomblo Sehat

 

Nobody wants to be lonely

Nobody wants to cry

My body’s longing to hold you

so bad it hurts inside

 

Siapa sih yang betah ngejomblo? Nobody wants to be lonely, kata Ricky Martin dan Christina Aguleira. Ngejomblo itu garing. Alone in the crowd – sendirian di tengah keramaian Kita ngejomblo sementara teman-teman pada bawa gebetan. Manyunlah kita.

 

Ngejomblo, Rugi?

 

Itulah yang dirasakan ama Muhlis, salah seorang pejomblo yang sukses dicegat kru Sobat Muda. “Nggak enak banget,” komentarnya cepet soal statusnya yang masih jomblo. Apa sih nggak enaknya? “Nggak ada temen curhat, khususnya untuk soal-soal yang pribadi. Lebih parah lagi yang dialami Ahmad yang sekolah di SMU PGRI I, ia suka diledek teman-temannya, ”Mereka bilang ’Lontong Sayur!’ hahaha,” katanya sambil ngakak.

 

Lho emangnya nggak bisa dengan temen-temen? “Bisa sih, tapi kan terbatas banget topiknya,” jawabnya. Selain terbatas, Muhlis juga khawatir banget kalau temen yang diajak curhatnya kagak jujur dalam ngerespon perasaannya. Lebih serem lagi kalau mereka nggak amanah alias ember ngebocorin rahasia pribadi ke orang lain. “Bisa aja di depan kita dia keliatannya ngedukung, padahal sih cuma untuk nyenengin perasaan kita aja, atau malah ngebocorin rahasia kita.”

 

Wah, wah, wah, rumit juga ya ngejalanin hidup jadi jomblo. Udah sendirian kudu hati-hati juga nyari teman yang bisa diajak curhat. Sedih deh, ihik, ihik.

 

Menurut cowok yang bekerja jadi customer care di sebuah bank swasta di Jakarta ini perasaan nggak enak ngejomblo juga dialami teman-temannya di kantor. Ada perasaan senang saat kumpul bersama sesama pejomblo soalnya ngerasa ada teman senasib dan seperjuangan (he…he…). Mereka juga suka sama-sama curhat soal nggak asyiknya jadi jomblo. Ruginya jadi pejomblo makin kerasa kalau ada kabar teman sekantor yang married. Apalagi kalau doi umurnya lebih muda, bisa makin gigit jari.

 

Selain nggak ada teman curhat, kerugian lain jadi pejomblo adalah soal keteraturan hidup. Namanya juga jomblo, mau pergi ke mana en kapan aja ya suka-suka. Pulang ke rumah juga nggak ada yang nungguin. Akhirnya hidup emang kurang teratur. Dalam urusan duit juga begitu, nggak teratur. Uang sering kepake untuk urusan yang nggak jelas.

 

Hindari Pacaran

 

Untuk pejomblo seperti Muhlis, yang udah terbilang dewasa dan mapan pula, barangkali akhir masa jomblo tinggal sesaat. Sewaktu ditanya kapan mau married, dengan mantap cowok keturunan Gorontalo ini ngejawab, “As soon as possible!” Nah, nggak salah kalau doi emang lagi serius banget nyari pasangan buat diajak nikah. He…he…he…ngebet ni ye? Doi cuma mesem-mesem.

 

Lalu gimana buat pejomblo yang masih sekolah atawa kuliah? Mau nikah kejauhan en belum mampu, ngejomblo terus nggak enak. Serba bingung. Kalau nggak kuat iman bisa jadi kebawa kebiasaan umum; pacaran! Daripada malam Minggu bengong, alasan mereka, mendingan cari gebetan. Ya, bisa buat curhat deh atau bisa dipamerin pada temen-temen bahwa gue juga bujangan yang laku.

 

”Kalo punya pacar kan ada yang sayang sama kita, ada yang merhatiin kita. Hehehehe” tambahnya. Yup, pergaulan yang udah bebas khususnya bikin hubungan sebelum kawin dianggap jamak, biasa aja lagi. Tengok aja kiri-kanan kita, banyak betul temen-temen yang ngelakuin kegiatan yang satu ini. Kalau nggak tahan godaan kuping bisa panas denger cerita mereka yang udah pada punya gebetan. Yang ceweknya cakep lah, yang apel malam Minggu-nya romantislah, dll. Pacaran memang jadi jalan ‘pembunuh’ sepi bagi para pejomblo. Itulah yang dikatakan Ika yang masih duduk di bangku SMP ini, ” Sirik juga sih gua hehehe. Mereka bisa kok aku nggak bisa. Bagi yang biasa pacaran ngejomblo nggak enak Mas!”

 

Meski motif berpacaran juga macam-macam, ada yang emang seurieus, tapi lebih banyak lagi yang cuma iseng-iseng. Kalau cocok jalan terus sampe kawin, kalau nggak ya bubar tengah jalan. Toh nggak rugi karena belum ada komitmen, kata mereka.

 

Tapi apa bener pacaran itu nggak rugi? Nggak juga.

 

Secara materi pacaran itu pastinya pemborosan. Mereka yang berpacaran pastinya keluar banyak uang untuk ongkos, pulsa telepon, makan-makan, atau ngebeliin do’i sesuatu. Belum lagi soal perasaan dan komitmen hubungan yang nggak bisa diukur pake rupiah. Dan pastinya, pacaran itu jadi jembatan menuju perbuatan maksiat; zina! Amit-amit. Wah, kalau udah begitu mah rugi amat berpacaran.

 

Jomblo Sehat

 

Yup, jadi jomblo emang kudu pinter-pinter nyiasatin bete-nya jadi jomblo. Kalau nggak bisa kecebur dalam pergaulan yang nggak sehat. Atau bisa jadi meratapi diri yang masih menjomblo.

 

Selain itu juga harus bisa nyari berbagai kegiatan positif supaya hidup kita tetap sehat dan optimis, dan nggak tergoda untuk melakukan hal yang nggak-nggak semisal pacaran. Ini ada beberapa langkah yang bagus buat para pejomblo:

 

§ Pahami karakter cinta

 

Menurut Muhammad Muhammad Ismail dalam bukunya Fikrul Islam, cinta itu kebutuhan naluri bukan jasmani. So, seandainya nggak terpenuhi nggak akan menyebabkan gangguan kesehatan apalagi mengantarkan orang pada kematian. Dengan memahami karakter cinta kaum cowok nggak perlu grasa-grusu, resah apalagi minder karena ngejomblo. Terima aja kenyataan kita masih ngejomblo. Lagian secara psikologis kaum cowok itu nyaris nggak ada expire date-nya. Ia bisa married pada umur berapa aja. Malahan, semakin dewasa seorang cowok biasanya makin disuka. Ini beda banget dengan kaum Hawa, mereka sering dilanda kecemasan seandainya belum menikah pada usia tertentu.

 

Tapi itu bukan berarti ngejomblo forever itu baik dan sah. Menurut agama sengaja ngejomblo, baik untuk niat maksiat alias jadi playboy, ataupun untuk niat beribadah (tabattul) adalah haram. Rasulullah saw. bersabda, “Tidak ada kependetaan (ruhbaniyyah) di dalam Islam”.

 

§ Kembangkan dirimu, guys!

 

Mumpung masih single, kembangkan segala kemampuan diri. Uber tuh yang namanya prestasi sekolah, habiskan waktu dengan yang namanya kegiatan belajar. Kalau masih kurang, kamu yang ngejomblo bisa ambil aneka ekstra kurikuler; olahraga, kegiatan ilmiah, sampe pengajian. Sekedar tahu aja, kalau kelak kamu udah married, nggak gampang bikin kegiatan pengembangan diri. Maklum, udah punya anak ama bini he…he… Waktu, konsentrasi dan tenaga lebih udah bercabang-cabang.

 

§ Cari kegiatan yang asyik

 

Muhlis hobi banget maen sepak bola. Katanya, selain biar sehat badan juga untuk cari kesibukan. Nah, kamu bisa cari aneka kegiatan yang asyik. Daripada jalan-jalan ke mall, atau ngelamun mendingan bikin acara yang positif.

 

§ Nggak usah minder

 

Jangan terprovokasi dengan sebutan banci atau kagak laku gara-gara masih ngejomblo. Juga nggak usah panas ati ngeliat temen-temen udah pada punya pacar. Kalem aja. Toh, kamu nggak ngerjain sesuatu yang haram. Seseorang pantas minder kalau berbuat sesuatu yang memalukan menurut syara’, bukan apa kata orang.

 

§ Jangan banyak ngelamun

 

Penyakit akut para pejomblo adalah ngelamun, berpikir kalo dirinya adalah unlucky guy. Boys, ngelamun hanya akan menambah penderitaan. Mendingan berpikir positif, bahwa dengan keadaan kayak sekarang kamu bisa nyetak banyak prestasi dan pengembangan diri. Ketimbang ngelamun cari deh kegiatan lain. Sama beracunnya dengan ngelamun adalah ngerumpiin cewek atawa akhwat dengan sesama pejomblo. Wah, itu sih udah bisa kebilang ghibah. Lagian, cuma bikin ati panas, nafsu gede, sementara nggak bisa ngejangkau.

 

§ Jangan goda diri sendiri

 

Banyak pejomblo yang senang menggoda diri sendiri. Mereka datang ke tempat-tempat yang di sana ada kaum akhwatnya. Istilah seorang kawan, “berburu jilbab”. Entah itu di pesta pernikahan, pengajian bahkan sampai acara-acara unjuk rasa. Ampun! Boys, itu hanya ngerusak pikiran, hati dan juga amal kita. Tentu saja nggak semua pejomblo kayak begitu, ini sih sekedar ngingetin aja.

 

Terakhir, banyakin ibadah terutama berdoa pada Allah agar dijauhkan dari perbuatan maksiat. Selain juga minta padanya agar suatu saat dijodohkan dengan orang yang baik agamanya dan dunianya. Amin! Simak aja deh lagunya Puff Daddy dan Usher di bawah ini:

 

I need a girl

to be my wife

 

Hidup Teratur Boyz!

 

Salah satu penyakit kaum jomblo adalah hidup kagak teratur. Jadual kegiatan sampai urusan makan sering berantakan. Ada yang beralasan idup baru teratur setelah married. Hmm, itu ada benarnya tapi bukan berarti sama sekali pejomblo itu nggak bisa teratur. Kamu kudu coba, insya Allah hidup terasa sehat, nikmat dan nikmat. Coba deh tips-tips di bawah ini:

 

1. Bangun pagi-pagi. Cobalah bangun sebelum azan subuh berkumandang. Mandi, berwudlu dan shalat berjamaah.

 

2. Baca Al Qur’an. Kalau sempat tingkatkan jumlah hapalan.

 

3. Pelajari kegiatan hari ini. Ada baiknya jadual kegiatan sudah ditulis pada malam sebelumnya. So, pagi-pagi kamu tinggak menceknya saja.

 

4. Dalami pelajaran untuk hari ini. Penting banget lho biar nggak cengo’ di kelas. Bisa kamu kerjakan sambil denger berita di tivi atau di radio, atau oke juga sambil denger musik.

 

5. Sarapan. Meski sedikit tapi vital banget biar badan nggak lemes sampai siang hari.

 

6. Berangkat sekolah, kuliah atau kerja.

 

7. Pulang ke rumah. Bukan berarti jalan-jalan itu nggak boleh, tapi jangan sampai keasyikan sampai lupa waktu. Ingat, besok kegiatan kamu juga sama padatnya.

 

8. Kumpul dengan keluarga. Yang sering dilupa oleh para jomblo adalah kumpul bareng keluarga, umumnya mereka lebih seneng jalan bareng temen ketimbang ama keluarga. Cobain deh ngerumpi bareng keluarga. Selain menambah kedekatan juga banyak masukan yang baik untuk kita.

 

================================================================

 

Zina Dalam Label “Pacaran”

 

Karya : Erwin Arianto

 

Sedih dan mengenaskan dua kata yang saya pilih saat saya bertemu dengan seorang sahabat yang ternyata hamil diluarnikah, oleh seorang kekasihnya yang tidak bertanggung jawab, seperti sebuah tayangan di sinetron ditelevisi, sudah menjadi sebuah kisah nyata yang ada pada masyarakat, hal ini adalah salah satu hasil Televisi dan tayangan media lain dalam merusak budaya yang ada pada masyarkat.

 

Saat ini cinta yang identik dengan pacaran adalah hal yang lumrah, hal ini dapat di lihat dalam beberpaa sinetron di televisi, bahkan anak SD pun sudah ditayangkan dalam hal pacara/percintaan. Apa yang dilakukan oleh orang yang berpacaran? secara kasat mata orang itu akan berpegangan tangan, lalu apa sih pacaran itu Pacaran diidentifikasikan sebagai suatu tali kasih sayang yang terjalin atas dasar saling menyukai antara lawan jenis. Apabila kita lihat secara sepintas dari definisi diatas mungkin dapat disimpulkan bahwa pacaran itu merupakan suatu yang wajar dilakukan dikalangan kita saat ini.

 

Terlepas dari tujuan Awal mungkin tujuan dari pacaran adalah untuk saling mengenal,untuk melanjutkan ke jenjang pernikahan, tapi pada tingkatan tertentu pacaran bisa jadi sebagai pelampiasan hawa nafsu bagi dua insan yang berbeda jenis. coba telaah dari beberapa kasus pacaran berapa persen yang memang pengenalan menuju pernikahan? jawabannya adalah sangat sedikit sekali, apakah benar yang sudah pacaran lama akan jadi dan menikah? jawabanya adalah tidak.Ketika kita pacaran, resiko yang kita dapat adalah patah hati, sakit hati, dan kita mendekati zina (bagaimana tidak kalau pacaran kemungkinan besar kita akan berpegangan tangan, Berciuman, atau bahkan melakukan zina/Bersetubuh)

 

fenomena hamil di luar nikah begitu marak, dan masyarakat pun sudah menganggap hal ini sebagai sesuatu yang biasa. Di mana-mana ada pemilu (pengantin hamil dahulu). Ironisnya, maksiat ini banyak dilakukan umat Islam, padahal Islam mengajarkan umatnya agar jangan mendekati zina… tapi kenapa hal ini bisa terjadi karena masyarakat tidak menjalankan islam secara menyeluruh, dan hasilnya Zina dan pacaran menjadi hal yang wajar dan biasa di mata umat islam dan penduduk indonesia pada umumnya.

 

Inilah dampak kebebasan yang begitu diagung-agungkan, begitu banyak Media Televisi,Majalah,Koran,DVD, FIlm, Internet yang menayangakan informasi yang salah, dan ini salah satu dampak kehancuran budaya bangsa akibat tayangan TV yang tidak bermoral. hal ini dapat kita lihat dari perubahan pandangan di masyarakat terjadi Perubahan nilai atau cara pandang terhadap pergaulan antar lawan jenis pun berubah. Kalau dulu, pacaran atau bermesraan di depan umum dianggap tabu, kini hal itu dianggap biasa. Jangankan bersentuhan atau sekadar berciuman, yang lebih dari itu pun dilakukan, dengan tanpa rasa malu! Naudzubillah min jalik…

 

Banyak kasus, karena hubungan pacaran yang terlalu bebas, dua insan yang dimabuk cinta.saat Hawa nafsu telah membius mereka, maka zina terjadi. Allah telah melarang mendekati zina apalagi kita berbuat zina, karena kalau kita telaah secara nalar dan akal, konsekuensi dari berbuat zina adalah sungguh berat dan membuat cemoohan dan siksa batin yang berat.

 

Bagi seorang gadis yang hamil di luar nikah karena zina, seringkali menyisakan rasa malu yang dalam. Gara-gara hamil di luar nikah, sekolah terpaksa kandas. Dan semua orang tahu, kini ia tidak gadis lagi. Duh, malu …rasanya! Tambah malu lagi, bila sang pacar tidak mau mengakui atau bertanggung jawab atas perbuatannya. Bila begini jadinya, rasanya, habislah sudah masa depannya. Penyesalan pun selalu datang terlambat. maukah anda atau keluarga kita mengalami hal ini..? pasti tidak mau kan, tapi mengapa kita membiarkan saudara, anak kita mendekati zina?

 

Tidak kah juga kita fikirkan saat kita berbuat kenikmatan sesaat sebuah konsekuensi lainya, kemarahan dan aib orang tua, rasa malu seorang anak yang ada karena perbuatan zina, jika kelak ia tahu, bahwa ia lahir ke dunia ini disebabkan perbuatan yang memalukan. zina adalah perbuatan yang sepantasnya hanya dilakukan binatang.

 

Normalnya, dalam pernikahan, kehadiran anak dianggap sebagai anugrah yang tak ternilai harganya. Tapi, bila anak terlahir dari hubungan di luar nikah, maka ia pun dianggap sebagai aib. Tak jarang, sebelum ia lahir ke dunia, orangtuanya berusaha menggugurkannya. Setelah lahir pun, seringkali ia hanya dibuang begitu saja, seperti sampah yang tak berharga. dan sebuah dosa lain akan tercipta disini yaitu sebuah pembunuhan sebuah nyawa. Zina dapat menyemai permusuhan dan menyalakan api dendam antara keluarga wanita dengan lelaki yang telah berzina dengannya.

 

Jika wanita yang berzina hamil dan untuk menutupi aibnya ia mengugurkan kandungannya itu maka dia telah berzina dan juga telah membunuh jiwa yang tidak berdosa . Jika dia ialah seorang wanita yang telah bersuami dan melakukan kecurangan sehingga hamil dan membiarkan anak itu lahir maka dia telah memasukkan orang asing dalam keluarganya dan keluarga suaminya sehingga anak itu mendapat hak warisan mereka tanpa disedari siapa dia sebenarnya. Amat mengerikan, naudzubillah min dzalik.

 

Terlepas dari sah atau tidaknya pernikahan MBA biasanya tidak akan membawa kebahagiaan yang langgeng dalam rumah tangga. Sebab pernikahan sudah kehilangan makna, tidak sakral lagi. Tak ada ‘malam pertama’ yang indah nan penuh kejutan. Karena semua dirasakan sebelum menikah. Mungkin, yang ada justru kejenuhan, penyesalan dan keterpaksaan. Zina menghilangkan harga diri pelakunya dan merosakkan masa depannya di samping meninggalkan aib yang berpanjangan bukan sahaja kepada pelakunya malah kepada seluruh keluarganya. Penzina yang berani melakukan maksiat ini dengan terang-terangan lebih buruk daripada mereka yang melakukannya secara sembunyi-sembunyi.

 

Jadi masihkah kita mau mendekati zina,atau dengan kata lain “bercinta” kalau konsekuensi logis dari pacaran atau zina bila yang kita dapat adalah sebuah kenikmatan semu? mau kah kita menjaga keluarga kita dari ancaman zina yang membius dan mengancam dari berbagai pihak. Semoga tidak ada lagi perbuatan haram yang memang berakibat buruk bagi kita semua.

 

“Terbius zina sesaat, Sesal kita selamanya”

 

Depok 2 juni 2008

Erwin Arianto

 

http://erwin-arianto.blogspot.com/2008/06/zina-dalam-label-pacaran.htm

 

tentang-pernikahan.com –

 

=======================================================================

 

Yang Jauh Dinanti Yang Datang Ditepis

 

Akhlaq bagus, berpendidikan tinggi, wawasan luas, berwajah tampan pula. Belum lagi didukung dengan kemapanan ekonomi yang bisa terlihat dari kendaraan dan rumah pribadinya. Meski demikian, kerendahan hatinya yang begitu menonjol menjadikannya begitu bersahaja. Tidak sombong dan justru sangat dermawan, dekat dengan segala golongan tidak memandang status dan membeda-bedakan orang berdasarkan kelas-kelas ekonomi. Terakhir yang tidak kalah pentingnya, mampu menunjukkan bakat kepemimpinan yang mumpuni. Bermimpikah bila ada gadis muslimah yang mendambakan seorang pendamping dengan kriteria diatas? Atau bolehkah memimpikannya?

 

Tentu saja, setiap orang -laki-laki maupun wanita- berhak menentukan kriteria orang yang akan dijadikan calon pendampingnya kelak. Karena, seperti yang dicita-citakan hampir semua wanita, cukup satu kali menikah untuk seumur hidup meski terkadang ada sebagian yang harus menerima kenyataan menikah untuk kesekian kalinya karena alasan-alasan tertentu. Terlebih bagi mereka yang memang diberikan kemurahan-Nya memiliki kualitas lebih dari yang lain, entah karena paras cantiknya, jenjang pendidikan, tingkat kemapanan ekonomi, lingkungan dan pergaulan, atau karena kelebihan-kelebihan lainnya, mereka yang dengan berbagai kelebihan yang dimiliki itu tentu saja lebih merasa berhak untuk mematok kriteria tinggi untuk seorang calon pendamping. Setidaknya, pikir mereka, “peluangnya lebih besar” meski harus disadari bahwa segala sesuatu yang bakal berlaku dalam hidup ini, tentu saja Allah penentu akhirnya.

 

Cantik, masih muda (dibawah 23 tahun atau masih berstatus mahasiswi), bukan hal aneh jika dikala ini masih cenderung membanding-bandingkan satu dengan yang lainnya untuk kemudian menentukan yang lebih baik. Bahkan bukan tidak mungkin masih menantikan hadirnya calon lain disamping yang sedang dibandingkannya. “Siapa tahu, yang datang kemudian lebih oke” pikirnya. Diusia seperti, ini idealisme seorang masih sangat tinggi sehingga, tidaklah heran jika ada orang yang membuat ‘joke’, salah satu kesibukan mereka adalah “sibuk nolak” terlebih terhadap laki-laki yang memang dianggap bukan kelasnya. Padahal yang ditolak itu sebenarnya juga “nggak rendah-rendah amat kualitasnya”, mungkin hanya kurang menarik, atau karena belum mempunyai pekerjaan mapan. Ada juga, alasan-alasan yang tidak masuk akal semisal perbedaan suku. Namun sudah pasti, ini tidak berlaku umum, karena buktinya, banyak juga mereka yang menikah diusia ini dengan menafikan hal-hal seperti wajah atau kemapanan ekonomi.

 

Sedikit diatas mereka (usia sekitar 25 tahun), baik mereka yang melanjutkan kuliah ke jenjang yang lebih tinggi atau sebagian yang lain yang sudah mendapatkan pekerjaan, mungkin saja kondisi tersebut mempertinggi ‘daya tawar’ mereka, namun justru pada usia ini pola pikir mereka tentang masa depan sudah mulai terbentuk dan punya arah yang lebih jelas. Pandangannya tentang calon pendamping tidak mutlak pada sisi fisiologis (tampan, berduit). Kalaupun ada pandangan ke arah tersebut, kadarnya pun tidak terlalu tinggi, setidaknya mereka juga lebih objektif mengukur dengan kualitas diri untuk disesuaikan dengan kriteria calon yang diharapkan.

 

Lain halnya dengan mereka yang sudah mendekati ‘kepala tiga’. Meski tidak bisa dipukul rata, namun tidak sedikit yang ‘banting harga’ di usia ini. Mereka yang ketika masih menjadi mahasiswi atau usia tidak lebih dari seperempat abad seringkali menampik kesempatan, menepis yang datang karena tingginya ‘idealisme’ dan patokan kriteria yang ditancapkan, mulai menurunkan kriteria calon, “Asal baik, sholatnya bener okelah”. Bahkan diusia kepala tiga, ada saja yang lebih gila-gilaan soal jodoh yang bisa terlihat dari ungkapan-ungkapan seperti, “asal ada yang mau”, “nunggu yang sholeh bener nggak datang-datang, yang ada ini juga bolehlah,” atau yang lebih ekstrim, “syukur ada yang mau”.

 

Patutlah menaruh hormat kepada para muslimah yang diusia kepala tiga atau lebih, tetap konsisten dengan mematok standar yang cukup realitis, Akhlak bagus (shaleh), jujur, amanah dan bertanggungjawab, berpenghasilan, serta memiliki jiwa pemimpin. Mereka tetap yakin bahwa Allah, dengan kerahasiaan-Nya sudah mengatur segala hal yang berkenaan dengan dirinya. Dengan tetap berkeyakinan seperti itu, kepercayaan dirinya mampu mengalahkan keresahan dan kegalauan yang terkadang muncul, “Hanya soal waktu, disinilah diuji kesabaran”, “Mungkin Allah mentakdirkan untuk lebih lama hidup sendiri” hiburnya. Ada pula wanita-wanita yang karena alasan tertentu sengaja menunda pernikahan. Mereka tidak pernah menyesal terlambat menikah, atau menyesal telah menepis sekian banyak pemuda baik-baik yang datang kepadanya. Mereka, tetap tegar menatap hidup merengkuh masa depan yang menanti.

 

Namun bagi yang ‘masih muda dan belum terlambat’, tiada salahnya juga untuk tidak segera menepis datangnya calon pendamping hanya karena kriterianya sedikit dibawah standar, karena siapa tahu -Maha Suci Allah dengan segala kerahasiaan-Nya- dialah yang sengaja dikirimkan Allah untuk anda. Karena juga belum tentu, pujaan hati dengan label tinggi yang selama ini dinanti segera datang, bahkan bisa jadi masih jauh. Who knows? Wallahu a’lam bishshowaab (Bayu Gautama)

————————–

sumber : eramuslim.com

 

http://www.dudung.net/artikel-islami/yang-jauh-dinanti-yang-datang-ditepis.html

This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s